Dok: Istimewa.
Jakarta – Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) terus memperkuat peran tata ruang sebagai fondasi pembangunan nasional, khususnya dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan.
Komitmen tersebut tercermin dari keberhasilan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang melampaui target nasional dalam pengintegrasian Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Mewakili Menteri ATR/Kepala BPN, Direktur Jenderal Tata Ruang, Suyus Windayana, memberikan apresiasi atas capaian Pemerintah Provinsi NTB yang berhasil mencatat luasan agregat LP2B sebesar 88,01 persen, melampaui target nasional sebesar 87 persen dari Lahan Baku Sawah (LBS).
Tak hanya itu, sebanyak tujuh kabupaten di NTB juga telah memenuhi target penetapan kawasan pertanian berkelanjutan sesuai kebijakan nasional.
Menurut Suyus, pencapaian tersebut bukan sekadar memenuhi indikator kinerja pemerintah, tetapi menjadi bukti bahwa penataan ruang yang konsisten mampu melindungi lahan pertanian produktif sekaligus menopang ketahanan pangan Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan pembangunan dan ancaman alih fungsi lahan.
“Tata ruang bukan hanya mengatur pemanfaatan ruang, tetapi menjadi pilar utama dalam menjaga kedaulatan pangan nasional. Keberhasilan NTB menunjukkan bahwa ketika perencanaan ruang dilaksanakan secara konsisten, lahan pertanian dapat terlindungi, investasi tetap berjalan, dan kepentingan masyarakat dapat dijaga secara seimbang,” ujar Suyus Windayana.
Ia menjelaskan, pengintegrasian LP2B ke dalam dokumen tata ruang merupakan implementasi nyata kebijakan nasional yang sejalan dengan Asta Cita Presiden untuk mewujudkan swasembada pangan. Langkah tersebut juga menjadi bagian penting dalam mendukung sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
Menurutnya, kepastian tata ruang menjadi instrumen strategis yang mampu menciptakan keseimbangan antara perlindungan lahan pertanian, keberlanjutan lingkungan, dan iklim investasi. Tanpa perencanaan ruang yang baik, lahan pangan produktif berpotensi terus berkurang akibat tekanan pembangunan.
Suyus menegaskan bahwa keberhasilan NTB diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain untuk mempercepat pengintegrasian LP2B ke dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Dengan demikian, lahan pertanian memiliki kepastian hukum yang lebih kuat dan terlindungi dari alih fungsi yang tidak terkendali.
“Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus bekerja bersama, memperkuat koordinasi, dan menjaga konsistensi pelaksanaan tata ruang demi terwujudnya Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaulat pangan,” tegas Suyus.
Selain memperkuat ketahanan pangan, tata ruang juga menjadi instrumen penting dalam membangun wilayah yang tangguh terhadap berbagai potensi bencana. Perencanaan ruang yang berbasis mitigasi dinilai mampu mengurangi risiko sekaligus meningkatkan kualitas pembangunan yang berkelanjutan.
Pandangan tersebut sejalan dengan pesan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, yang menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak dalam membangun ketangguhan daerah.
“Mari kita tenun Ketangguhan NTB dengan jalinan gotong royong. Mewujudkan resiliensi berkelanjutan hari ini, demi kelangsungan hidup anak cucu kita esok,” ujar Suharyanto.
Sementara itu, Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhammad Iqbal, menegaskan bahwa pembangunan yang berorientasi pada masa depan harus selalu mengedepankan aspek mitigasi bencana dan keberlanjutan.
“Bencana itu tidak bisa dihindari, tapi tugas kita adalah menyiapkan diri dengan upaya mitigasi berupa pembangunan yang terencana dan berkelanjutan,” kata Lalu Muhammad Iqbal.
Keberhasilan NTB melampaui target nasional LP2B memperlihatkan bahwa sinergi antara kebijakan tata ruang, perlindungan lahan pertanian, dan mitigasi bencana mampu menciptakan fondasi pembangunan yang lebih kokoh.
Capaian ini tidak hanya memperkuat posisi NTB sebagai salah satu daerah terdepan dalam perlindungan lahan pangan, tetapi juga menjadi model bagi daerah lain dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat pangan, tangguh menghadapi tantangan, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
