Dok: Kemenkes.
Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI meluruskan informasi yang beredar di media sosial terkait dugaan penggelembungan anggaran pengadaan alat kesehatan (alkes) untuk layanan hemodialisis (HD) di RSUD KH Muhammad Thohir Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.
Kemenkes menegaskan bahwa tidak ada praktik mark up dalam pengadaan tersebut dan nilai anggaran yang menjadi sorotan merupakan bagian dari dukungan pemerintah untuk memperkuat layanan kesehatan di daerah.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa angka lebih dari Rp30 miliar yang disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat berdialog dengan Presiden Prabowo Subianto pada peresmian RSUD KH Muhammad Thohir Krui beberapa waktu lalu bukanlah anggaran khusus untuk layanan hemodialisis.
Menurutnya, angka tersebut merupakan nilai bantuan alat kesehatan canggih yang diberikan kepada setiap rumah sakit daerah yang masuk dalam Program Hasil Cepat Terbaik (PHTC) atau Quick Win melalui program Strengthening Indonesia’s Healthcare Referral Network (SIHREN).
“Setiap RSUD yang menjadi bagian dari program ini mendapatkan dukungan alat kesehatan canggih senilai lebih dari Rp30 miliar. Peralatan tersebut meliputi cathlab, CT scan 64 slice, echocardiography, mammography, dan berbagai alat kesehatan modern lainnya. Untuk RSUD Krui sendiri, bantuan alkes canggih yang diterima mencapai sekitar Rp31,7 miliar pada tahun ini,” ujar Aji.
Ia menegaskan bahwa nilai tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi layanan hemodialisis sebagaimana yang ramai diperbincangkan di media sosial. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
Selain bantuan alat kesehatan canggih, Kemenkes juga memberikan dukungan alat kesehatan dasar kepada rumah sakit penerima program dengan nilai berkisar antara Rp20 miliar hingga Rp30 miliar. Untuk RSUD Krui, bantuan alat kesehatan dasar yang dialokasikan pada tahun anggaran 2025 dan 2026 mencapai sekitar Rp25 miliar.
Bantuan tersebut mencakup berbagai peralatan penting untuk menunjang pelayanan kesehatan, seperti bed pasien, defibrillator, mesin anestesi, patient monitor, patient monitor ICU, syringe pump, ultrasonografi (USG), serta ventilator untuk layanan dewasa, anak, dan anestesi.
Tak hanya itu, RSUD Krui juga memperoleh dukungan berupa bed ICU set, instrumen bedah umum, instrumen operasi sesar, mobile X-Ray, operating lamp, operating table, plasma sterilizer, infusion pump, serta berbagai alat penunjang pelayanan kegawatdaruratan dan ruang operasi.
Dengan demikian, total bantuan alat kesehatan yang diterima RSUD KH Muhammad Thohir Krui mencapai sekitar Rp56,7 miliar, yang terdiri dari alat kesehatan canggih dan alat kesehatan dasar guna memperkuat kapasitas layanan rumah sakit.
Kemenkes menegaskan bahwa seluruh pengadaan dilakukan sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat dan merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat sistem rujukan nasional. Program ini bertujuan menghadirkan layanan kesehatan yang lebih merata, berkualitas, dan mudah diakses oleh masyarakat di seluruh Indonesia.
Penguatan RSUD KH Muhammad Thohir Krui diharapkan mampu meningkatkan akses layanan kesehatan bagi masyarakat Pesisir Barat dan wilayah sekitarnya. Dengan tersedianya berbagai peralatan medis modern, masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan yang lebih lengkap di daerahnya sendiri tanpa harus banyak dirujuk ke rumah sakit di luar daerah.
Melalui program penguatan rumah sakit daerah ini, pemerintah terus berupaya mempercepat pemerataan layanan kesehatan sekaligus memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan medis yang berkualitas, aman, dan terjangkau.
