Dok: Istimewa.
Jakarta – Pemerintah mulai mendorong filantropi sebagai salah satu kekuatan baru untuk memperkuat layanan kesehatan nasional, terutama di tengah menurunnya bantuan luar negeri global.
Langkah itu ditandai melalui penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Danantara Indonesia Trust yang difokuskan pada peningkatan kesehatan ibu dan anak.
Penandatanganan kerja sama yang berlangsung di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Senin (25/5/2026), disaksikan langsung Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Dalam kesempatan itu, Menkes menegaskan bahwa filantropi tidak sekadar soal bantuan dana, tetapi harus dibangun di atas kepercayaan dan mampu menciptakan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.
“Filantropi itu basisnya adalah kepercayaan. Kalau kita tidak bisa membangun kepercayaan, mustahil kita mendapatkan pendanaan filantropi,” ujar Budi.
Menurutnya, filantropi juga harus menjadi katalis untuk memperbesar dampak program kesehatan, terutama dalam menghadapi tantangan kesehatan ibu dan anak yang masih tinggi di Indonesia.
Kolaborasi antara Kemenkes dan Danantara Indonesia Trust akan difokuskan pada penyediaan vaksin heksavalen guna melindungi anak dari berbagai penyakit menular, penguatan infrastruktur rantai dingin vaksin, hingga penyediaan suplemen multiple micronutrient untuk ibu hamil.
Program tersebut dinilai penting mengingat Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam cakupan imunisasi. Berdasarkan data WHO dan UNICEF 2026, masih terdapat hampir 960 ribu anak zero-dose atau anak yang belum pernah menerima imunisasi sama sekali.
Kondisi itu menjadi alarm bahwa akses imunisasi dan distribusi vaksin di berbagai wilayah masih perlu diperkuat. Selain imunisasi, persoalan gizi ibu hamil dan pencegahan stunting juga menjadi perhatian utama dalam kerja sama tersebut.
Menkes Budi menilai, di tengah keterbatasan anggaran dan berkurangnya dukungan bantuan internasional, dana filantropi dapat menjadi pengungkit agar lebih banyak sumber daya bergerak membantu sektor kesehatan.
“Dengan modal kepercayaan dan pendekatan katalitik inilah, kita bisa mendatangkan lebih banyak dana filantropi untuk kepentingan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Pembina Danantara Indonesia Trust sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan pihaknya ingin mengambil peran lebih luas dalam mendukung pembangunan sosial nasional.
Menurut Rosan, Danantara tidak hanya hadir sebagai pengelola aset dan investasi negara, tetapi juga ingin memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui berbagai intervensi sosial, termasuk sektor kesehatan.
Melalui kerja sama ini, pemerintah berharap intervensi kesehatan terhadap ibu hamil, bayi, dan anak dapat berjalan lebih cepat dan tepat sasaran. Penguatan imunisasi, perbaikan gizi, serta dukungan terhadap layanan kesehatan diyakini menjadi langkah penting untuk menekan angka kematian ibu dan anak sekaligus mencegah masalah gizi kronis sejak dini.
Di akhir pernyataannya, Menkes kembali menekankan bahwa tantangan kesehatan nasional tidak mungkin diselesaikan pemerintah sendirian. Karena itu, kolaborasi dengan sektor filantropi dinilai menjadi langkah strategis untuk membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh, inklusif, dan merata di seluruh Indonesia.
