Dok: Istimewa.
Jakarta – Sejumlah peristiwa politik nasional mewarnai Selasa (3/2/2026), mulai dari langkah Presiden Prabowo Subianto yang mengundang organisasi masyarakat (ormas) Islam ke Istana Kepresidenan hingga diskusi strategis mengenai industri penerbangan nasional.
Presiden Prabowo Subianto mengundang perwakilan sejumlah ormas Islam, di antaranya Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), ke Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Selasa siang. Pertemuan tersebut membahas posisi Indonesia dalam keanggotaan Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) Gaza.
Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis membenarkan adanya undangan dari Presiden Prabowo untuk berdiskusi terkait isu tersebut. Ia menyebut pertemuan itu menjadi forum penting untuk menyerap pandangan tokoh-tokoh Islam terkait isu Palestina.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya juga membenarkan undangan tersebut. Menurutnya, Presiden mengundang sekitar 40 hingga 50 perwakilan ormas Islam, pimpinan pondok pesantren, serta tokoh-tokoh muslim dari berbagai daerah.
Dalam pertemuan itu, Presiden Prabowo menegaskan komitmen Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. Ia bahkan membuka opsi bagi Indonesia untuk keluar dari keanggotaan BoP Gaza apabila lembaga tersebut dinilai tidak mampu mewujudkan tujuan utama, yakni Palestina yang merdeka.
Selain isu geopolitik, Presiden Prabowo juga menggelar pertemuan dengan pimpinan perusahaan pesawat asal Brasil, Embraer. Dalam diskusi tersebut, Prabowo bersama CEO Embraer Commercial Aviation Arjan Meijer, Direktur Utama Garuda Indonesia, Direktur Utama PT Pindad, serta Menteri Sekretaris Negara membahas perkembangan teknologi dan arah industri penerbangan global, termasuk peluang kerja sama dengan Indonesia.
Di sisi lain, kabar duka datang dari keluarga besar Polri. Meriyati Roeslani Hoegeng, istri mantan Kapolri Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, wafat pada usia 100 tahun. Almarhumah dikenal sebagai sosok sederhana dan teladan, mendampingi Jenderal Hoegeng yang dikenal luas karena integritasnya.
Rangkaian peristiwa tersebut mencerminkan dinamika politik nasional yang mencakup isu keagamaan, hubungan internasional, industri strategis, hingga penghormatan terhadap tokoh bangsa.
