Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian. Dok: Istimewa.
Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menegaskan bahwa dirinya tidak pernah berniat mengecilkan bantuan kemanusiaan yang diberikan Pemerintah Malaysia kepada masyarakat Aceh pascabencana.
Baca juga: Bertemu Presiden Prabowo, Dasco Sampaikan Perhatian DPR soal Ekonomi dan Bencana Sumatra
Ia menyebut polemik yang muncul belakangan lebih disebabkan oleh kesalahpahaman dalam menangkap maksud pernyataannya.
Penegasan itu disampaikan Tito merespons pernyataan mantan Menteri Luar Negeri Malaysia, Tan Sri Rais Yatim, yang menyatakan kekecewaan atas komentar Mendagri terkait bantuan Malaysia.
“Pernyataan saya kemarin mungkin disalahpahami. Saya sama sekali tidak bermaksud meremehkan bantuan dan dukungan dari saudara-saudara kita di Malaysia,” kata Tito saat ditemui di Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (19/12/2025).
Tito bahkan secara terbuka menyampaikan permohonan maaf apabila ucapannya menimbulkan tafsir yang keliru di ruang publik. Ia menegaskan bahwa menghargai bantuan kemanusiaan merupakan prinsip yang selalu ia pegang.
“Kalau ada yang merasa tersinggung atau salah paham, saya minta maaf. Tidak ada sedikit pun niat mengecilkan bantuan dari siapa pun,” ujarnya.
Lebih lanjut, Mendagri menekankan bahwa hubungan Indonesia dan Malaysia, baik secara kelembagaan maupun personal, telah terjalin erat sejak lama.
Baca juga: Menteri PKP Maruarar Sirait: Negara Hadir Permudah MBR Miliki Rumah
Ia mengaku memiliki rekam jejak kerja sama yang panjang dengan Malaysia, mulai dari masa penanganan terorisme pascabom Bali, saat menjabat Kapolri, hingga kini sebagai Mendagri.
“Hubungan baik itu juga terus terjalin dengan Menteri Dalam Negeri Malaysia, Menteri Luar Negeri, sampai Perdana Menteri Malaysia,” kata Tito.
Menurut Tito, inti dari pernyataannya sebelumnya bukanlah soal membandingkan nilai bantuan luar negeri, melainkan ajakan agar kerja besar pemerintah Indonesia baik pusat maupun daerah juga mendapat apresiasi yang seimbang.
Ia menuturkan, sejak hari-hari awal bencana, pemerintah bergerak cepat dan masif. Tito bahkan turun langsung ke Aceh pada 29 November 2025 untuk memastikan penanganan berjalan optimal, mulai dari Banda Aceh, Pidie, Pidie Jaya, hingga Lhokseumawe.
“Kami mengoordinasikan langsung TNI, Polri, BNPB, Basarnas, dan pemerintah daerah. Banyak sekali yang dikerjakan sejak hari pertama, hanya memang tidak semuanya terekspos media,” jelasnya.
Selain kehadiran personel, pemerintah pusat juga menyalurkan bantuan logistik dalam jumlah besar, termasuk ratusan ton beras dari Bulog, serta mengerahkan helikopter, kapal, dan pesawat sesuai arahan Presiden. Dukungan anggaran cepat pun diberikan kepada daerah yang kekurangan dana operasional.
Meski demikian, Tito kembali menegaskan apresiasinya terhadap bantuan internasional, termasuk dari Malaysia, yang memiliki ikatan historis dan emosional kuat dengan Aceh.
“Yang saya maksud sederhana, mari kita sama-sama menghargai semua pihak. Pemerintah pusat, daerah, relawan, donatur dalam negeri, dan juga sahabat-sahabat dari luar negeri,” tutup Tito.
