Prof. Dr. Yasonna H. Laoly, S.H., M.Sc., Ph.D. saat menyampaikan kuliah umum bertema “What Do You Stand For? Iman, Integritas dan Suara di Era Digital” di Aula STT IKAT Jakarta, 27 Agustus 2026. Dok: Istimewa.
Jakarta – Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, generasi muda berhadapan dengan satu tantangan yang sering kali lebih sulit daripada sekadar mencari jawaban: menentukan sikap.
Pertanyaan itulah yang dibawa Yasonna Hamonangan Laoly dalam kuliah umum di Sekolah Tinggi Teologi (STT) IKAT Jakarta, Rabu (27/8/2026). Mengangkat tema “What Do You Stand For? Iman, Integritas dan Suara di Era Digital”, Yasonna mengajak mahasiswa merenungkan nilai apa yang menjadi pijakan mereka ketika menghadapi perubahan zaman.
Di hadapan mahasiswa yang memenuhi Aula STT IKAT, Yasonna tidak sekadar berbicara tentang perkembangan teknologi. Ia mengajak generasi muda melihat lebih jauh: bagaimana pengetahuan, teknologi, dan kebebasan bersuara harus berjalan bersama iman, integritas, serta tanggung jawab.
Bukan Sekadar Menjadi Pintar
Menurut Yasonna, pendidikan tidak berhenti pada kemampuan menguasai ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, pendidikan harus membentuk manusia yang memiliki karakter dan mengetahui untuk apa pengetahuan tersebut digunakan.
Generasi muda, kata dia, perlu memiliki pijakan yang kokoh agar tidak mudah terbawa arus informasi yang begitu deras di era digital.
Iman menjadi salah satu fondasi penting. Dari sana, seseorang memiliki pegangan untuk membedakan apa yang benar dan apa yang sekadar terlihat benar.
Namun iman saja tidak cukup tanpa integritas. Nilai-nilai yang diyakini harus tercermin dalam sikap dan tindakan, termasuk ketika seseorang berada dalam situasi yang tidak mudah.
Suara yang Bertanggung Jawab
Era digital memberikan ruang yang luas bagi setiap orang untuk berbicara. Satu pesan dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam waktu singkat.
Tetapi kebebasan bersuara juga membawa tanggung jawab.
Yasonna mendorong mahasiswa agar tidak takut menyuarakan kebenaran, namun tetap mempertimbangkan dampak dari setiap kata yang disampaikan. Suara yang baik bukan sekadar suara yang paling keras, melainkan suara yang lahir dari pengetahuan, kepedulian, dan keberanian untuk bertanggung jawab.
Di tengah banjir informasi, kemampuan untuk berpikir kritis menjadi semakin penting. Generasi muda perlu mampu memilah informasi, menguji kebenarannya, serta tidak menjadikan teknologi sebagai ruang untuk menyebarkan kebencian atau informasi yang menyesatkan.
Teknologi Harus Membawa Manfaat
Yasonna juga mengingatkan mahasiswa agar memandang teknologi sebagai sarana untuk menghadirkan manfaat.
Kemajuan digital seharusnya membuka lebih banyak kesempatan bagi manusia untuk belajar, bekerja, berkolaborasi, memperjuangkan keadilan, dan membantu mereka yang membutuhkan.
Teknologi, dengan demikian, bukan tujuan akhir. Ia hanyalah alat. Arah penggunaannya sangat bergantung pada manusia yang berada di belakangnya.
Karena itu, kecerdasan digital perlu berjalan beriringan dengan nilai kemanusiaan.
Menentukan Apa yang Diperjuangkan
Pertanyaan “What Do You Stand For?” pada akhirnya bukan sekadar tema sebuah kuliah umum. Ia menjadi pertanyaan personal yang mengajak setiap mahasiswa melihat ke dalam dirinya sendiri.
Apa yang diyakini? Apa yang diperjuangkan? Dan ketika berada di persimpangan antara kepentingan pribadi dan kebenaran, di mana seseorang memilih untuk berdiri?
Yasonna mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi manusia yang cerdas secara akademik, tetapi juga teguh dalam prinsip dan nyata dalam pengabdian.
Sebab masa depan bangsa tidak hanya membutuhkan generasi yang mampu membaca perubahan, tetapi juga generasi yang memiliki keberanian untuk menentukan arah.
Di tengah zaman yang terus berubah, pengetahuan mungkin menjadi bekal untuk melangkah. Namun iman, integritas, dan keberanian untuk menyuarakan kebenaranlah yang menentukan ke mana langkah itu diarahkan.
