Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara. Dok: Istimewa.
Jakarta – Kajian Tim Ekspedisi Patriot (TEP) tahun 2025 mengungkap bahwa kawasan transmigrasi di Indonesia menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya tergarap optimal karena pengelolaannya belum berbasis data, sains, dan teknologi.
Temuan ini disampaikan Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara saat menutup rangkaian diseminasi hasil riset TEP, hasil kolaborasi Kementerian Transmigrasi dengan tujuh perguruan tinggi nasional, Selasa (23/12).
“Riset ini menegaskan bahwa Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang perlu kita perbaiki adalah cara mengelolanya, dengan pendekatan data yang akurat, dukungan sains, dan pemanfaatan teknologi,” kata Menteri Iftitah dalam konferensi pers.
Program Ekspedisi Patriot dilaksanakan sejak Agustus hingga Desember 2025 dan menjangkau 154 kawasan transmigrasi di berbagai wilayah Indonesia.
Sekitar 2.000 peneliti dari UI, ITB, UGM, UNDIP, UNPAD, ITS, dan IPB University terlibat langsung di lapangan, dengan dukungan BRIN serta sejumlah kementerian terkait. Skala riset ini menjadikannya salah satu studi kolaboratif terbesar di kawasan transmigrasi.
Hasil riset menunjukkan, lebih dari 70 persen kawasan transmigrasi masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar, seperti jalan produksi, irigasi, air bersih, listrik, dan fasilitas pascapanen. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya nilai tambah ekonomi, di mana lebih dari 60 persen komoditas unggulan masih dijual dalam bentuk bahan mentah.
Menurut Menteri Iftitah, simulasi riset memperlihatkan bahwa perbaikan jalan produksi saja dapat menekan biaya logistik hingga 55 persen. Sementara penyediaan fasilitas pengolahan sederhana mampu meningkatkan nilai jual komoditas sebesar 20 hingga 40 persen.
“Langkah kecil yang tepat sasaran justru bisa memberi dampak besar dibandingkan proyek besar yang tidak terhubung dengan rantai nilai,” ujarnya.
Riset TEP juga mengidentifikasi beragam potensi ekonomi spesifik di tiap kawasan, mulai dari pertanian, sawit, sagu, perikanan, peternakan, energi terbarukan, hingga industri maritim. Setiap kawasan dinilai memiliki karakter dan kebutuhan kebijakan yang berbeda.
Berdasarkan simulasi lintas perguruan tinggi, pengelolaan kawasan transmigrasi berbasis data diperkirakan mampu menarik investasi senilai Rp180 triliun hingga Rp240 triliun dalam empat tahun ke depan, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi kawasan hingga ratusan triliun rupiah per tahun.
“Transmigrasi bukan beban sosial, melainkan frontier ekonomi Indonesia. Dengan sains dan teknologi, pertumbuhan kawasan bisa dipercepat dan diukur secara jelas,” tegas Menteri Transmigrasi.
Apresiasi terhadap Program Ekspedisi Patriot juga disampaikan Kepala BRIN Arif Satria. Ia menilai kolaborasi lintas kampus dan kementerian ini sebagai langkah strategis dalam menjadikan sains sebagai fondasi pembangunan kawasan transmigrasi.
Ke depan, Kementerian Transmigrasi akan melanjutkan penguatan Program Transmigrasi Patriot melalui pendampingan kawasan, penyiapan proyek investasi, serta Beasiswa Patriot yang menempatkan mahasiswa pascasarjana langsung di kawasan transmigrasi.
Sebagai penutup kegiatan, Kementerian Transmigrasi memberikan penghargaan kepada tujuh perguruan tinggi mitra riset. Menteri Iftitah pun menegaskan komitmen pemerintah menjadikan kawasan transmigrasi sebagai salah satu motor baru pertumbuhan ekonomi nasional.
“Transmigrasi bukan cerita masa lalu, tapi masa depan pembangunan Indonesia,” pungkasnya.
