Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat memberikan pembekalan dan berbagi pengalaman kepada calon wisudawan UGM di Grha Sabha Pramana, Yogyakarta. Dok: Istimewa.
Jakarta – Wisuda bukanlah akhir dari perjalanan belajar. Justru setelah toga dilepas dan gerbang kampus ditinggalkan, proses belajar memasuki babak yang sesungguhnya.
Pesan itu disampaikan Wali Kota Yogyakarta Dr. dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), saat berbagi pengalaman kepada ribuan calon wisudawan Program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM Periode I Tahun Akademik 2025/2026 di Grha Sabha Pramana, Yogyakarta.
Hasto mengajak para lulusan untuk tidak menjadikan ijazah sebagai tanda berhentinya proses menuntut ilmu. Menurutnya, dunia kerja dan kehidupan akan menghadirkan persoalan yang tidak selalu memiliki jawaban di ruang kuliah.
“Meski perkuliahan telah berakhir tidak berarti kewajiban belajar juga berhenti. Teruslah tetap membaca dan belajar karena dari itu akan membantu kehidupan nantinya,” ujar Hasto.
Belajar Sepanjang Hayat
Bagi Hasto, kemampuan untuk terus belajar merupakan bekal yang tidak mengenal batas usia maupun jabatan. Ia menilai pengetahuan harus terus diperbarui karena dunia berubah. Apa yang relevan hari ini belum tentu cukup untuk menjawab persoalan di masa depan.
Karena itu, ia mendorong para lulusan untuk tetap membaca, terbuka terhadap pengalaman baru, dan tidak cepat merasa cukup hanya karena telah memperoleh gelar akademik.
Ditempa di Pedalaman
Pesan tersebut tidak lahir dari ruang kosong. Hasto mengalaminya sendiri sejak awal perjalanan profesinya. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran UGM pada 1989, ia memilih mengabdi di daerah terpencil. Pilihan tersebut membawanya ke kawasan hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.
Selama sekitar lima tahun, ia memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan kondisi yang jauh dari fasilitas perkotaan.
Untuk menjangkau pasien, perahu menjadi bagian dari kesehariannya. Bahkan, ia pernah memberikan suntikan kepada pasien dari atas perahu ke perahu.
“Dari kapal sebelah mereka menyodorkan tubuhnya, dan saya suntik dari kapal yang saya tumpangi,” kenangnya.
Saat itu, Hasto menerima penghasilan sekitar Rp61 ribu per bulan. Namun, pengalaman tersebut memberinya pelajaran yang jauh lebih berharga tentang arti pelayanan dan pengabdian.
Ilmu dan Pengabdian
Di pedalaman, Hasto melihat langsung bahwa pelayanan kepada masyarakat tidak selalu berlangsung dalam keadaan ideal. Akses sulit, transportasi terbatas, dan kondisi pasien yang memprihatinkan menjadi bagian dari realitas yang harus dihadapi. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti melayani.
“Prinsip harus tetap sama, mengabdi tetap dilakukan, tanpa hitung-hitungan soal imbalan,” katanya.
Pengalaman itu memperluas pandangannya bahwa ilmu pengetahuan akan memiliki arti yang lebih besar ketika digunakan untuk membantu manusia.
Memimpin dengan Pengalaman
Perjalanan Hasto kemudian berkembang dari dunia kedokteran ke pemerintahan. Ia dipercaya menjadi Bupati Kulon Progo selama dua periode, kemudian menjabat Kepala BKKBN, sebelum akhirnya kembali ke Yogyakarta sebagai wali kota.
Saat memimpin Kulon Progo, Hasto turut mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui pengembangan berbagai produk lokal, seperti air minum, batik, beras, kopi hingga konblok. Ia juga mendorong penguatan koperasi melalui Toko Milik Rakyat atau Tomira.
Menurut Hasto, pembangunan ekonomi seharusnya tidak hanya menciptakan keuntungan bagi sebagian pihak, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperbaiki kehidupannya.
“Buatlah usaha yang mampu mengangkat banyak orang miskin keluar dari lingkar kemiskinan,” pesannya.
Bekal Menatap Masa Depan
Kepada para calon wisudawan, Hasto juga menekankan pentingnya bekerja dalam tim. Menurutnya, kemampuan berkolaborasi akan membuat gagasan dan pekerjaan menghasilkan dampak yang lebih besar.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi generasi yang akan memasuki dunia profesional. Mereka tidak hanya membutuhkan kecakapan akademik, tetapi juga kemampuan beradaptasi, bekerja bersama, dan memahami persoalan nyata di masyarakat.
Perjalanan hidup Hasto menjadi gambaran bahwa pendidikan tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan kampus.
Dari dokter yang melayani masyarakat di pedalaman hingga dipercaya memimpin pemerintahan, setiap fase kehidupan menjadi ruang belajar baru.
Karena itu, di hadapan para calon lulusan UGM, Hasto menitipkan satu pesan sederhana: jangan pernah merasa selesai belajar.
Sebab, gelar mungkin menandai berakhirnya pendidikan formal, tetapi kehidupan justru membuka kelas yang lebih panjang—tempat pengalaman, kegagalan, pengabdian, dan pertemuan dengan masyarakat menjadi guru yang tak pernah berhenti mengajarkan sesuatu.
