Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Dominikus Alpawan Rangga Kaka bersama masyarakat petani panen jagung di Kampung Ikit, Desa Hameli Ate, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya. Dok: Istimewa.
Jakarta – Hamparan jagung yang menguning di Kampung Ikit, Desa Hameli Ate, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, menjadi simbol optimisme baru bagi pembangunan pertanian di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di tengah panen raya jagung varietas Lamuru, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan komitmen pemerintah menjadikan sektor pertanian sebagai fondasi utama menuju swasembada pangan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Panen raya yang berlangsung pada Jumat (3/7/2026) itu bukan sekadar seremoni hasil musim tanam. Bagi Pemerintah Provinsi NTT, keberhasilan petani di Kodi Utara menunjukkan besarnya potensi daerah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pertanian.
Data Dinas Pertanian Provinsi NTT mencatat luas tanam jagung di Kabupaten Sumba Barat Daya pada Musim Tanam I Oktober 2025-Maret 2026 hingga Musim Tanam II April–Juni 2026 mencapai 36.393 hektare, dengan sekitar 8.260 hektare berada di Kecamatan Kodi Utara. Capaian tersebut menempatkan wilayah ini sebagai salah satu sentra produksi jagung terbesar di NTT.
Di hadapan para petani, Gubernur Melki menegaskan bahwa keberhasilan swasembada pangan sangat bergantung pada peran petani sebagai ujung tombak produksi pangan nasional.
“Kalau tidak ada petani, kita mau makan dari mana?” tegasnya.
Menurut Melki, peningkatan luas tanam harus diiringi dengan penguatan ekosistem pertanian, mulai dari penyediaan pupuk, benih unggul, pembangunan irigasi, hingga dukungan sarana pascapanen. Tanpa itu, produktivitas dan daya saing hasil pertanian akan sulit meningkat secara berkelanjutan.
Pemerintah Provinsi NTT pun berkomitmen memperjuangkan tambahan kuota pupuk bersubsidi melalui koordinasi dengan Kementerian Pertanian, Komisi IV DPR RI, dan PT Pupuk Indonesia. Selain itu, pemerintah akan memperkuat pembangunan infrastruktur pertanian serta penyediaan alat pascapanen seperti mesin pengering dan mesin perontok untuk menekan kerugian hasil panen.
Tak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, pemerintah juga tengah menyiapkan pasar yang lebih pasti bagi hasil panen petani. Salah satunya dengan mendorong agar kebutuhan bahan pangan bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat dipenuhi dari komoditas pertanian lokal. Skema tersebut diharapkan mampu memperkuat rantai pasok pangan daerah sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
Ketua Kelompok Tani Paghili Mere, Agustinus Wokur Kaka, mengatakan sebagian besar petani di Desa Hameli Ate mengelola lahan seluas satu hingga beberapa hektare dan mampu menanam jagung hingga tiga kali dalam setahun. Menurutnya, dukungan pemerintah terhadap pupuk, benih, dan sarana produksi akan sangat menentukan peningkatan hasil panen.
Hal senada disampaikan Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Dominikus Alpawan Rangga Kaka. Ia menilai sektor jagung telah menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat di wilayahnya dan berperan besar dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga petani, termasuk membiayai pendidikan anak-anak hingga jenjang yang lebih tinggi.
Panen raya di Kodi Utara menjadi penegasan bahwa jalan menuju swasembada pangan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau tingginya produksi, tetapi juga oleh keberpihakan kebijakan kepada petani.
Melalui penguatan benih, pupuk, irigasi, sarana pascapanen, dan kepastian pasar, Pemerintah Provinsi NTT berharap jagung tidak hanya menjadi komoditas unggulan, tetapi juga motor penggerak ekonomi pedesaan dan fondasi kemandirian pangan di daerah.
