Logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dok: Istimewa.
Jakarta – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali mengirim sinyal bahaya terkait ancaman resistansi antimikroba (AMR). Dalam peringatan tegas yang dirilis Selasa (18/11), WHO menegaskan bahwa dunia tengah berada di ambang krisis kesehatan global baru, di mana infeksi umum yang dulu mudah ditangani kini berubah menjadi ancaman mematikan.
Direktur Regional WHO untuk kawasan Pasifik Barat, Saia Ma’u Piukala, menuturkan bahwa era emas pengobatan modern yang dimulai sejak penemuan antimikroba hampir 100 tahun lalu kini terancam memudar.
Ia mengingatkan bahwa penyalahgunaan antibiotik baik dalam pelayanan kesehatan maupun penggunaan pribadi telah mempercepat proses adaptasi patogen sehingga menjadi kebal terhadap obat.
“Bakteri, virus, jamur, dan parasit berkembang jauh lebih cepat dibanding kemampuan kita menciptakan obat baru, Jika kondisi ini dibiarkan, kita berisiko kehilangan salah satu penopang utama ilmu kedokteran.”kata Piukala.
Baca juga: Samsat Jakarta Selatan Perketat Pengawasan, Pastikan Layanan Bebas Pungli dan Percaloan
WHO mencatat bahwa satu dari enam infeksi bakteri di dunia kini tidak lagi mempan terhadap antibiotik standar. Pada 2019 saja, hampir 5 juta kematian dikaitkan dengan resistansi obat, dengan 1,3 juta kematian secara langsung disebabkan oleh infeksi yang resisten. Angka ini diperkirakan terus meningkat apabila tidak dilakukan intervensi serius.
Situasi lebih mengkhawatirkan terjadi di kawasan Pasifik Barat. WHO memperkirakan 5,2 juta jiwa berpotensi meninggal akibat infeksi bakteri kebal obat sepanjang periode 2020-2030 jika tren tidak dibalik melalui kebijakan dan tindakan kolektif.
Pada Majelis Umum PBB 2024, negara-negara anggota telah menyepakati deklarasi politik untuk menekan angka kematian akibat AMR sebesar 10 persen pada tahun 2030. Namun Piukala menilai komitmen tersebut masih menghadapi tantangan berat di lapangan.
Banyak fasilitas kesehatan di negara berkembang belum memiliki laboratorium diagnostik memadai, sementara sejumlah rumah sakit kekurangan sumber daya untuk menjalankan program pengendalian infeksi maupun pengelolaan antimikroba.
“Antimikroba adalah perangkat yang sangat berharga, tapi sekaligus rapuh, Setiap penyalahgunaan membuat kita selangkah lebih dekat pada masa ketika luka ringan atau infeksi umum kembali menjadi ancaman mematikan.”ujar Piukala.
Ia menegaskan bahwa proses penanggulangan resistansi obat harus dimulai dari tingkat paling dasar: penggunaan antibiotik secara bertanggung jawab. Konsumen diimbau tidak menggunakan antibiotik tanpa resep, sementara tenaga medis diminta memastikan pemberian obat hanya pada kasus yang benar-Logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) benar diperlukan.
Rumah sakit juga didorong berinvestasi pada fasilitas diagnostik cepat dan kebijakan pengendalian infeksi yang ketat. Piukala menutup peringatannya dengan ajakan agar negara-negara bertindak segera.
“Kita telah berinvestasi selama beberapa dekade untuk membangun kemajuan medis. Jangan biarkan kita kehilangannya hanya karena lalai mengendalikan resistansi antimikroba.” pungkasnya.
