Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menerima Kunjungan Kehormatan Danpushidrosal, Dankodaeral VII, dan perwakilan Royal Australian Navy di Kupang. Dok: Istimewa.
Jakarta – Suasana hangat terasa sejak rombongan TNI Angkatan Laut dan Royal Australian Navy tiba di Ruang Kerja Gubernur NTT pada Rabu (12/11/2025). Bukan sekadar kunjungan seremonial, pertemuan ini memancarkan semangat kerja sama yang lahir dari kepedulian bersama terhadap laut Nusa Tenggara Timur ruang hidup yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi dan identitas masyarakatnya.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menerima langsung kedatangan Danpushidrosal Laksamana Madya TNI Budi Purwanto, Dankodaeral VII Laksamana Muda TNI Joni Sudianto, serta Commander Robyn Philips dari Royal Australian Navy. Sekitar 17 orang hadir, membawa keahlian dan pengalaman masing-masing untuk melihat lebih dekat potensi sekaligus tantangan yang dihadapi wilayah kepulauan NTT.
Di luar gedung, Cassowary Exercise 2025 tengah berlangsung di perairan Kupang latihan gabungan yang mempertemukan para pelaut Indonesia dan Australia dalam serangkaian kegiatan seperti survei hidrografi, patroli maritim, komunikasi antar kapal, hingga latihan penyelamatan.
Namun pertemuan di ruang kerja Gubernur itu menghadirkan dimensi lain: percakapan tentang masa depan laut NTT dan bagaimana kolaborasi dapat memberi arah yang lebih baik.
Gubernur Melki Laka Lena menyampaikan pandangannya dengan nada yang akrab namun penuh visi. Ia menekankan bahwa laut bukan hanya soal peta dan data, melainkan ruang kehidupan masyarakat pesisir yang perlu dijaga.
“Kami ingin memastikan setiap potensi kelautan dikelola dengan bijak. Peta yang jelas akan membantu kami menentukan mana wilayah tangkap, mana kawasan konservasi, mana ruang wisata. Ini penting bukan hanya untuk pemerintah, tapi untuk masyarakat yang hidup dari laut setiap hari,” ujarnya.
Di sisi lain, Laksamana Madya Budi Purwanto menegaskan komitmen Pushidrosal untuk mendukung NTT melalui pemetaan laut berstandar internasional. Ia menjelaskan bahwa peta laut tidak hanya berfungsi sebagai panduan navigasi, tetapi juga mengandung konsekuensi hukum dan keselamatan.
“NTT berada di posisi strategis. Dengan dukungan teknologi dan kerja sama internasional, kita bisa memperkuat keamanan dan merancang pembangunan maritim yang lebih terarah,” katanya.
Pertemuan berlangsung cair, dengan sejumlah diskusi mengenai kebutuhan survei hidrografi yang lebih intensif serta bagaimana informasi itu kelak dapat membantu pembangunan pelabuhan, mitigasi bencana maritim, hingga investasi wisata bahari.
Bagi Gubernur Melki, kolaborasi ini lebih dari sekadar agenda kerja. Ia melihatnya sebagai kesempatan membangun jembatan antara keahlian militer, ilmu pengetahuan kelautan, dan harapan masyarakat pesisir NTT.
“Kami ingin laut NTT menjadi tempat yang aman, produktif, dan membawa masa depan yang lebih baik bagi anak-anak kita,” tuturnya.
Pertemuan tersebut menutup hari dengan kesadaran baru bahwa kerja sama lintas negara dan lintas lembaga mampu membuka jalan bagi pengelolaan laut yang lebih manusiawi. Di tengah luasnya perairan NTT, sinergi ini menjadi harapan bahwa potensi besar itu dapat dikelola secara bijak, aman, dan berkelanjutan.
