Ketua Umum DPP Satkar Ulama Indonesia, Idris Laena. Dok: Istimewa.
Jakarta – Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, mendapat sambutan hangat dari Ketua Umum DPP Satkar Ulama Indonesia, Idris Laena. Ia menilai penghargaan tersebut merupakan pengakuan resmi atas kontribusi luar biasa Soeharto terhadap pembangunan bangsa dan negara.
Idris menekankan bahwa Jenderal Besar (Purn.) H. M. Soeharto telah memenuhi seluruh kriteria formal yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 terkait pemberian gelar dan tanda kehormatan.
“Pengabdian beliau selama bertahun-tahun tidak hanya dalam bidang pemerintahan, tetapi juga dalam membangun fondasi sosial dan keagamaan Indonesia, pantas mendapat penghargaan tertinggi,” ujar Idris, Senin (10/11/2025).
Selain sebagai Presiden, Soeharto juga dikenal sebagai pendiri Satkar Ulama Indonesia pada 13 Maret 1970 bersama sejumlah tokoh pemerintahan dan ulama. Peran beliau dalam mendirikan organisasi ini, serta kiprahnya sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, menjadi salah satu dasar dukungan Satkar Ulama terhadap pemberian gelar Pahlawan Nasional.
Idris menjelaskan bahwa perjalanan menuju gelar ini tidak sepenuhnya mulus. Hambatan muncul dari Tap MPR RI Nomor XI/MPR/1998 dan isu pelanggaran HAM yang kerap dilontarkan sejumlah pihak.
Baca juga: Bank BTN dan PP IKAHI Bersinergi Hadirkan Program Kepemilikan Hunian “Graha Hakim”
Namun, kata Idris, kedua isu tersebut kini telah mendapatkan penjelasan resmi: MPR periode 2019-2024 memastikan masalah Tap MPR telah selesai, sementara hingga saat ini tidak ada lembaga hukum yang menetapkan Soeharto bersalah atas dugaan pelanggaran HAM.
“Tidak ada alasan hukum yang menghalangi pemerintah memberikan penghargaan ini. Gelar Pahlawan Nasional bukan sekadar simbol, tetapi pengakuan atas dedikasi dan kontribusi nyata bagi negara,” tegas Idris.
Dukungan atas pemberian gelar ini datang dari berbagai ormas dan tokoh masyarakat yang menilai bahwa jasa Soeharto terhadap pembangunan Indonesia begitu luas dan berkelanjutan. Idris menutup pernyataannya dengan menegaskan,
“Hari ini, bangsa Indonesia memberikan penghormatan yang layak untuk sosok yang telah banyak berkontribusi bagi kemajuan negara.”
