Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik. Dok: Istimewa.
Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyiapkan langkah ekspansi pada 2027 melalui peningkatan pencatatan efek baru dan penguatan infrastruktur pasar modal. Untuk mendukung agenda tersebut, BEI mengalokasikan belanja investasi sebesar Rp670 miliar, meningkat 161,82 persen dibandingkan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2026 revisi.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, bursa menargetkan 905 pencatatan efek baru sepanjang 2027. Target tersebut meningkat 13,1 persen dibandingkan sasaran dalam RKAT 2026 revisi sebanyak 800 efek.
Rencana itu menjadi bagian dari upaya BEI memperluas pilihan instrumen investasi sekaligus mendorong pertumbuhan aktivitas pasar modal Indonesia.
Dalam konferensi pers seusai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BEI di Jakarta, Rabu (28/10/2026), Jeffrey memaparkan bahwa target pencatatan efek tahun depan terdiri atas 25 saham baru melalui penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO), 175 Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS), serta 705 efek lainnya, termasuk waran dan Kontrak Investasi Kolektif (KIK).
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan pasar tidak hanya diarahkan pada penambahan perusahaan tercatat, tetapi juga pada perluasan instrumen yang dapat dimanfaatkan pelaku pasar.
Investasi untuk Infrastruktur
Peningkatan target pencatatan efek berjalan beriringan dengan rencana penguatan infrastruktur bursa. BEI menganggarkan belanja investasi Rp670 miliar pada 2027, naik 161,82 persen dibandingkan RKAT 2026 revisi.
Investasi tersebut disiapkan untuk mendukung pengelolaan infrastruktur serta pertumbuhan bisnis BEI ke depan.
Penguatan infrastruktur menjadi salah satu aspek penting dalam menopang aktivitas perdagangan, layanan pencatatan, dan penyediaan informasi pasar yang menjadi bagian dari kegiatan usaha bursa.
Dari sisi keuangan, BEI memproyeksikan pendapatan sebesar Rp2,59 triliun pada 2027, tumbuh 14,6 persen dibandingkan RKAT 2026 revisi. Adapun laba bersih ditargetkan mencapai Rp563,9 miliar, meningkat 22,76 persen.
Menurut Jeffrey, proyeksi pendapatan tersebut ditopang oleh aktivitas transaksi efek, kontribusi jasa pencatatan efek, serta pertumbuhan layanan data kebursaan.
Transaksi Dibidik Rp21 Triliun
BEI juga memasang target peningkatan aktivitas perdagangan. Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) diproyeksikan mencapai Rp21 triliun pada 2027, naik 16,7 persen dibandingkan asumsi RKAT 2026 revisi sebesar Rp18 triliun per hari.
Selain transaksi, BEI menargetkan rata-rata investor aktif bulanan mencapai 1,3 juta investor. Jumlah tersebut meningkat 44,4 persen dibandingkan target 900.000 investor pada RKAT 2026 revisi.
Kedua indikator itu menjadi bagian dari asumsi utama yang digunakan dalam penyusunan proyeksi kinerja dan anggaran bursa tahun depan.
Dari sisi neraca, total aset BEI diproyeksikan mencapai Rp9,12 triliun, sedangkan total ekuitas diperkirakan sebesar Rp7,66 triliun pada 2027.
Dengan target pencatatan efek, peningkatan transaksi, pertumbuhan investor aktif, dan penguatan infrastruktur, BEI menyiapkan sejumlah agenda untuk menopang perkembangan bisnisnya pada tahun mendatang.
Realisasi sasaran tersebut tetap akan dipengaruhi dinamika pasar modal dan kondisi perekonomian. Karena itu, pencapaian target 2027 akan bergantung pada perkembangan aktivitas perdagangan, minat investor, serta kebutuhan pendanaan melalui pasar modal.
