Jakarta – Berawal dari eceng gondok yang tumbuh di sekitar rumah, Maryati berhasil mengembangkan usaha kerajinan anyaman yang memiliki nilai ekonomi.
Melalui kreativitas dan pendampingan PT Permodalan Nasional Madani (PNM), tanaman yang selama ini kerap dianggap gulma itu diolah menjadi tas, keranjang, dan berbagai produk kerajinan yang dipasarkan hingga ke luar daerah.
Maryati, nasabah PNM Mekaar dari Tegalwaru, Bekasi, melihat peluang usaha dari bahan baku yang tersedia di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan keterampilan mengolah eceng gondok, ia mengubah tanaman tersebut menjadi produk yang tidak hanya memiliki fungsi, tetapi juga daya jual.
Perjalanan usahanya semakin berkembang setelah bergabung dengan PNM Mekaar. Melalui pendampingan usaha, Maryati mendapatkan dukungan untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas peluang pemasaran. Kini, kerajinan eceng gondok buatannya telah menjangkau konsumen di sejumlah daerah, termasuk Yogyakarta dan Bali.
“Awalnya eceng gondok ini saya lihat tumbuh di sekitar rumah. Dari situ saya berpikir bagaimana tanaman ini bisa dimanfaatkan dan menghasilkan. Alhamdulillah, sekarang kerajinan yang saya buat sudah bisa dipasarkan ke luar daerah. Saya ingin terus mengembangkan usaha ini supaya produknya semakin dikenal,” ujar Maryati.
Kisah Maryati menunjukkan bahwa peluang usaha dapat tumbuh dari potensi sederhana yang ada di sekitar. Dengan kreativitas dan ketekunan, bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus membuka kesempatan bagi usaha kecil untuk berkembang.
Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero), Kindaris, mengatakan bahwa kisah Maryati mencerminkan pentingnya pemberdayaan yang tidak hanya berfokus pada akses pembiayaan, tetapi juga pada pengembangan potensi dan kemampuan usaha nasabah.
“Ibu Maryati tidak perlu mencari bahan baku jauh-jauh untuk memulai usahanya. Ia melihat peluang dari apa yang ada di sekelilingnya, lalu mengubah eceng gondok yang selama ini dianggap gulma menjadi produk yang bernilai dan memiliki pasar. Bagi kami, cerita seperti ini menunjukkan bahwa pemberdayaan bukan hanya tentang memberikan akses, tetapi juga tentang membuka ruang agar potensi yang sudah dimiliki nasabah dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi,” ujar Kindaris.
Melalui PNM Mekaar, PNM terus mendorong perempuan prasejahtera pelaku usaha ultra mikro agar mampu mengembangkan usahanya secara bertahap. Pendampingan menjadi bagian penting untuk membantu nasabah meningkatkan kualitas produk, mengenali peluang pasar, dan membangun kemandirian ekonomi.
Perjalanan Maryati menjadi gambaran bahwa pemberdayaan dapat dimulai dari potensi lokal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari tanaman yang tumbuh di sungai, ia membangun usaha kerajinan yang kini menjangkau pasar lintas daerah, sekaligus menunjukkan bahwa kreativitas dapat membuka peluang ekonomi baru.
