Dok: Ilustrasi buatan AI.
Jakarta – Secangkir kopi, sebuah buku, dan waktu tanpa notifikasi. Bagi sebagian anak muda di tengah padatnya kehidupan kota, hal-hal sederhana seperti itu kini menjadi cara untuk menikmati waktu dengan lebih tenang.
Kesibukan pekerjaan, aktivitas sosial, hingga kebiasaan terus terhubung dengan ponsel membuat kehidupan sehari-hari terasa semakin cepat. Dari situ, slow living dan digital detox mulai menjadi pilihan bagi anak muda urban yang ingin menciptakan jeda di tengah rutinitas.
Slow living bukan berarti meninggalkan kesibukan atau berhenti mengejar target. Gaya hidup ini lebih banyak berbicara tentang bagaimana seseorang menentukan prioritas, menikmati proses, dan memberikan waktu untuk aktivitas yang benar-benar ingin dilakukan.
Kebiasaan tersebut bisa dimulai dari hal sederhana. Menikmati kopi tanpa sibuk membuka media sosial, membaca buku, berjalan santai, memasak, atau menghabiskan waktu bersama orang terdekat menjadi aktivitas yang memberi ruang untuk beristirahat dari rutinitas.
Sementara itu, digital detox dilakukan dengan cara membatasi penggunaan perangkat digital dalam waktu tertentu. Ponsel tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi penggunaannya mulai diatur agar tidak terus-menerus mengambil perhatian.
indah, 28 tahun, pekerja kreatif di Jakarta, menjadi salah satu anak muda yang mencoba kebiasaan tersebut. Ia membiasakan diri menghabiskan sekitar dua jam tanpa menggunakan gawai untuk memberi jarak dari pekerjaan dan aktivitas digital.
Waktu tersebut biasanya digunakan untuk melakukan kegiatan lain yang lebih sederhana. Menurutnya, mengurangi penggunaan gawai juga membuat waktu istirahat terasa lebih nyaman dan membantu memperbaiki pola tidurnya.
Fenomena ini muncul di tengah kehidupan perkotaan yang semakin bergantung pada teknologi. Hampir setiap aktivitas dapat dilakukan melalui layar, mulai dari bekerja, berkomunikasi, berbelanja hingga mencari hiburan.
Namun, kemudahan tersebut juga membuat batas antara waktu bekerja dan waktu beristirahat menjadi semakin tipis. Notifikasi pekerjaan atau media sosial dapat muncul kapan saja sehingga seseorang tetap merasa terhubung meski aktivitas utama sudah selesai.
Karena itu, digital detox tidak selalu berarti benar-benar meninggalkan teknologi. Bagi banyak orang, langkahnya justru dimulai dengan kebiasaan sederhana, seperti tidak membawa ponsel ke meja makan, mengurangi penggunaan media sosial sebelum tidur, atau menyediakan waktu tertentu tanpa membuka layar.
Di sisi lain, slow living memberikan ruang untuk kembali menikmati aktivitas sehari-hari tanpa harus selalu mengejar kecepatan. Kehidupan tetap berjalan seperti biasa, tetapi seseorang memiliki kesempatan untuk menentukan kapan harus fokus dan kapan perlu berhenti sejenak.
Di tengah hiruk-pikuk kota, tren tersebut memperlihatkan perubahan cara sebagian anak muda memaknai waktu. Produktivitas tetap penting, tetapi waktu untuk beristirahat, menikmati lingkungan sekitar, dan melakukan aktivitas sederhana juga mulai mendapat tempat.
Pada akhirnya, slow living dan digital detox bukan tentang menjauh dari kehidupan modern. Keduanya lebih merupakan upaya untuk menemukan keseimbangan agar teknologi dan kesibukan tetap menjadi bagian dari kehidupan tanpa mengambil seluruh waktu dan perhatian.
