Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) meninjau langsung kondisi rumah salah satu penerima manfaat Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Jakarta – Kondisi rumah warga di tengah padatnya kawasan ibu kota menjadi perhatian Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) saat meninjau langsung pelaksanaan program Bedah Rumah di Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (18/9/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Menteri PKP melihat langsung kondisi sejumlah rumah warga yang menjadi calon penerima bantuan. Peninjauan dilakukan hingga ke bagian dalam rumah untuk memastikan kondisi hunian sesuai dengan keadaan sebenarnya.
Salah satu warga yang ditemui adalah Siti Nurbaiti. Ia tinggal bersama suami dan dua anaknya dalam rumah yang kondisinya sudah membutuhkan perbaikan. Bagian atap rumah mengalami kerusakan dan bocor ketika hujan.
Siti mengatakan keluarganya belum pernah mendapatkan bantuan perumahan sebelumnya. Suaminya bekerja sebagai pemulung dengan penghasilan yang terbatas, sehingga memperbaiki rumah secara mandiri bukan perkara mudah.
Menteri PKP pun meminta agar kondisi rumah dilihat apa adanya. Ia bahkan mempersilakan awak media yang ikut dalam kunjungan untuk melihat langsung bagian dalam rumah.
“Enggak usah direkayasa-rekayasa, apa adanya saja rumah rakyat,” ujar Menteri PKP.
Bagian atap, ruang dalam hingga belakang rumah diperiksa bersama. Kondisi tersebut kemudian menjadi dasar untuk memastikan bahwa bantuan memang diberikan kepada warga yang membutuhkan.
Setelah melihat kondisi rumah Siti, Menteri PKP menyampaikan bahwa rumah tersebut akan diperbaiki. Pekerjaan dijadwalkan mulai 1 Oktober dan ditargetkan selesai dalam waktu sekitar dua bulan.
Selama rumah diperbaiki, Siti dan keluarganya akan menempati tempat tinggal sementara. Menteri PKP meminta agar kebutuhan tersebut turut dicarikan jalan keluar sehingga keluarga Siti tetap dapat tinggal dengan aman selama proses renovasi berlangsung.
Di tengah pembicaraan mengenai rumah, Siti juga menyampaikan persoalan lain yang dihadapi keluarganya. Ia bercerita mengenai salah satu anaknya yang mengalami keterbatasan pendengaran dan kemampuan berbicara.
Mendengar cerita tersebut, Menteri PKP meminta persoalan itu dicatat dan dikoordinasikan dengan pihak terkait. Ia juga menekankan pentingnya pendekatan jemput bola agar warga tidak harus menunggu untuk mendapatkan perhatian pemerintah.
“Jemput bola, Bu. Enggak usah nunggu laporan,” katanya.
Peninjauan kemudian berlanjut ke rumah warga lainnya. Salah satunya adalah Muhadi, warga berusia 53 tahun yang tinggal dalam rumah dengan kondisi sangat sederhana. Bagian atap rumahnya masih menggunakan terpal sebagai pelindung.
Kondisi serupa juga ditemukan di rumah Elin Nustiyana. Elin tinggal bersama suami dan tiga anaknya. Ia mengungkapkan bahwa ketiga anaknya merupakan penyandang disabilitas dan bersekolah di SLBN 3 Jakarta.
Kepada Menteri PKP, Elin mengaku sangat terbantu dengan adanya perhatian pemerintah terhadap kondisi rumahnya. Ia bahkan mengungkapkan harapannya untuk bisa merasakan kehidupan yang lebih layak bersama keluarganya.
“Saya pengin ngerasain hidup yang layak,” tutur Elin.
Bagi warga, kedatangan pemerintah secara langsung memberikan makna tersendiri. Mereka tidak hanya mendapatkan perhatian terhadap kondisi rumah, tetapi juga memiliki ruang untuk menyampaikan persoalan keluarga yang selama ini dihadapi.
Menteri PKP menegaskan bahwa bantuan perbaikan rumah harus diberikan kepada masyarakat yang memang belum mampu memperbaiki huniannya secara mandiri. Karena itu, pengecekan langsung ke lapangan menjadi bagian penting untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
“Yang tidak mampu kita bantu,” ujarnya.
Kunjungan di Petamburan memperlihatkan sisi lain dari program perumahan, bahwa di balik rumah yang rusak terdapat keluarga yang membutuhkan tempat tinggal yang lebih aman dan layak.
Bagi Siti, Elin, dan warga lainnya, perbaikan rumah bukan hanya soal bangunan, tetapi juga tentang harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
