Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti. Dok: Istimewa.
Jakarta – Sebuah bangsa tidak hanya dibangun dengan jalan, gedung, dan angka pertumbuhan. Ia juga dibangun dari kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri. Di situlah data menemukan maknanya: menjadi cermin yang memperlihatkan bagaimana masyarakat hidup, bagaimana ekonomi bergerak, dan ke mana pembangunan seharusnya melangkah.
Di tengah kebutuhan tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) memegang peran yang semakin penting. BPS bukan sekadar tempat angka dikumpulkan dan disusun menjadi tabel. Lebih dari itu, BPS menjadi salah satu mata negara untuk melihat perubahan yang terjadi di tengah masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Amalia Adininggar Widyasanti, peran tersebut terus diperkuat. Amalia, yang akrab disapa Winny, dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala BPS pada 19 Februari 2025, setelah sebelumnya menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas Kepala BPS sejak Juli 2023.
Pengalaman panjangnya di Kementerian PPN/Bappenas menjadi bekal penting. Lebih dari dua dekade ia berada di lingkungan perencanaan pembangunan, bersentuhan dengan persoalan ekonomi, kebijakan publik, serta kebutuhan pemerintah terhadap data yang dapat dipercaya. Kini, pengalaman itu dibawa ke lembaga yang berada di garis depan penyediaan statistik nasional.
Jejak Sang Teknokrat
Perjalanan Amalia adalah pertemuan antara ilmu, pengalaman, dan pengabdian. Ia menempuh pendidikan Teknik Kimia di Institut Teknologi Bandung, melanjutkan Magister Sains di kampus yang sama, kemudian memperoleh Master of Engineering dari Rensselaer Polytechnic Institute, Amerika Serikat.
Langkah akademiknya berlanjut hingga University of Melbourne, Australia, tempat ia menyelesaikan pendidikan doktoral bidang ekonomi. Perjalanan lintas disiplin itu membentuk cara pandang yang tidak hanya melihat angka sebagai hasil perhitungan, tetapi juga sebagai bagian dari sebuah sistem yang lebih besar.
Kariernya di Kementerian PPN/Bappenas dimulai pada 1999. Dari sana, berbagai tanggung jawab strategis datang silih berganti hingga ia dipercaya menjabat Deputi Bidang Ekonomi.
Di ruang perencanaan pembangunan itulah satu kesadaran semakin menguat: kebijakan yang baik membutuhkan data yang baik. Angka yang benar dapat menjadi kompas; angka yang keliru dapat membawa perjalanan ke arah yang salah.
Data untuk Kebijakan
Hari ini, perubahan bergerak jauh lebih cepat. Pola konsumsi berubah, dunia usaha tumbuh dalam ruang digital, pekerjaan baru bermunculan, sementara kondisi sosial ekonomi masyarakat terus mengalami pergeseran.
Pemerintah membutuhkan data yang semakin rinci agar kebijakan tidak berjalan dalam gelap. Dunia usaha memerlukannya untuk membaca peluang. Masyarakat pun membutuhkan statistik yang dapat dipercaya untuk memahami perubahan yang mereka alami sendiri.
Karena itu, tugas BPS tidak berhenti pada menghasilkan angka. Ada pekerjaan yang lebih besar: memastikan angka tersebut lahir dari proses yang benar, metodologi yang kuat, dan kerja statistik yang profesional.
Pengalaman Amalia di Bappenas menemukan tempatnya di sini. Ia memahami kebutuhan perencanaan dari dalam, sekaligus kini berada di lembaga yang menyediakan salah satu fondasi utama bagi perencanaan tersebut.
Menata Data Nasional
Salah satu bagian penting dari perjalanan tersebut adalah penguatan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
DTSEN menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun basis data sosial ekonomi yang lebih terpadu untuk mendukung berbagai program pembangunan dan perlindungan sosial. Bagi BPS, pekerjaan ini bukan sekadar menyatukan data, melainkan memastikan data terus diperbarui agar tetap mampu menggambarkan kehidupan masyarakat yang sesungguhnya.
Sebab masyarakat selalu bergerak.
Pendapatan berubah, pekerjaan berganti, keluarga bertambah, kondisi tempat tinggal berkembang. Apa yang benar hari ini belum tentu menggambarkan keadaan beberapa waktu kemudian.
Karena itu, pemutakhiran data menjadi pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia seperti merawat peta: jalan baru harus ditambahkan, perubahan harus dicatat, dan gambaran lama harus diperbarui agar tetap menunjukkan keadaan yang sebenarnya.
Pada akhirnya, data sosial ekonomi yang semakin akurat memberi pemerintah pijakan untuk menentukan kebijakan secara lebih tepat siapa yang membutuhkan bantuan, program apa yang harus diperkuat, dan wilayah mana yang membutuhkan perhatian lebih besar.
Membaca Wajah Ekonomi
Jika DTSEN membantu membaca kondisi sosial ekonomi masyarakat, maka Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) memberi kesempatan untuk melihat wajah perekonomian Indonesia secara lebih luas.
Setiap sepuluh tahun, Indonesia seolah berhenti sejenak untuk bercermin. Melalui sensus ekonomi, perubahan struktur dunia usaha, perkembangan UMKM, digitalisasi, hingga berbagai aktivitas ekonomi baru dipetakan kembali.
Ekonomi Indonesia tidak lagi hanya hidup di pasar dan pusat perdagangan. Ia juga tumbuh di layar telepon genggam, platform digital, ruang kerja bersama, rumah-rumah yang berubah menjadi tempat usaha, dan berbagai ruang baru yang lahir dari perkembangan teknologi.
Perubahan itu harus terbaca dalam data.
Karena itu, SE2026 bukan sekadar pendataan. Ia adalah upaya untuk memahami denyut perekonomian Indonesia—melihat apa yang tumbuh, apa yang berubah, sekaligus membaca peluang yang mungkin muncul di masa depan.
Data tersebut nantinya menjadi bekal penting bagi pemerintah, dunia usaha dan masyarakat dalam menentukan langkah berikutnya.
BPS di Era Baru
Perubahan zaman juga menuntut perubahan cara kerja.
Digitalisasi pengumpulan data, pemanfaatan teknologi, pengembangan metodologi statistik serta kolaborasi lintas lembaga menjadi bagian dari perjalanan transformasi BPS.
Namun teknologi hanyalah kendaraan. Yang menentukan sampai atau tidaknya perjalanan adalah kualitas data dan manusia yang mengelolanya.
Karena itu, transformasi BPS tidak semata-mata berbicara tentang kecepatan. Ia juga berbicara tentang ketepatan, relevansi, keamanan, profesionalisme dan kepercayaan.
Sebab angka yang datang lebih cepat tetapi tidak akurat justru dapat menjadi persoalan baru.
Menjaga Kepercayaan
Di tengah derasnya informasi, angka hadir hampir di setiap sudut kehidupan. Namun tidak semua angka memiliki bobot yang sama.
Ada angka yang sekadar menjadi informasi. Ada pula angka yang menjadi dasar pemerintah menentukan kebijakan, dunia usaha mengambil keputusan, dan masyarakat memahami keadaan.
Di sinilah pentingnya kepercayaan terhadap statistik.
Di balik angka kemiskinan terdapat keluarga dan kehidupan yang nyata. Di balik angka pertumbuhan ekonomi terdapat jutaan pekerja, pelaku usaha dan aktivitas produksi. Di balik angka inflasi terdapat harga kebutuhan yang dirasakan langsung masyarakat.
Karena itu, menjaga kualitas statistik pada akhirnya bukan hanya menjaga angka. Ia adalah menjaga cara negara memandang rakyatnya.
Data untuk Indonesia
Pengalaman panjang Amalia dalam perencanaan pembangunan memberi warna tersendiri dalam kepemimpinannya di BPS. Ia datang dari dunia yang menggunakan data untuk merancang masa depan, kemudian memimpin lembaga yang bertugas memastikan data tersebut tersedia dengan kualitas yang dapat dipercaya.
Pertemuan dua pengalaman itu menjadi penting ketika Indonesia memasuki fase pembangunan yang semakin kompleks.
Menuju Indonesia Emas 2045, kebutuhan terhadap statistik akan semakin besar. Pemerintah membutuhkan data untuk mengukur kemajuan, membaca kesenjangan, mengevaluasi kebijakan dan menentukan prioritas pembangunan.
Indonesia membutuhkan data yang tidak hanya banyak, tetapi bermakna. Tidak hanya cepat, tetapi tepat. Tidak hanya tersedia, tetapi dipercaya.
Di situlah ikhtiar BPS menemukan arti yang lebih luas.
Di bawah kepemimpinan Amalia Adininggar Widyasanti, upaya membangun ekosistem data yang kuat bukan sekadar pekerjaan administratif. Ia merupakan bagian dari ikhtiar yang lebih besar: membantu Indonesia mengenali dirinya sendiri agar dapat menentukan arah masa depannya dengan lebih pasti.
Sebab pembangunan adalah perjalanan panjang. Dan dalam perjalanan itu, data adalah kompas. Selama kompasnya benar, langkah dapat diarahkan. Selama datanya tepercaya, keputusan dapat dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, membangun Indonesia dengan data berarti membangun masa depan dengan pijakan yang nyata.
