Corporate Secretary BTN Ramon Armando. Dok: Istimewa.
Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus memperlebar pijakan bisnisnya. Tak lagi hanya mengandalkan pembiayaan perumahan, BTN kini memperkuat segmen kredit pensiunan, pra-pensiunan hingga pinjaman karyawan aktif melalui pengambilalihan portofolio kredit dari PT Bank SMBC Indonesia Tbk.
Langkah tersebut memasuki babak penting setelah BTN menuntaskan transaksi pengalihan aset pinjaman melalui skema Conditional Loan Asset Transfer Agreement (CLATA) pada 14 Agustus 2026.
Penyelesaian transaksi itu disampaikan BTN melalui keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Selasa (18/8/2026).
Transaksi CLATA menjadi bagian dari rangkaian pengambilalihan portofolio kredit SMBC Indonesia dengan nilai keseluruhan hampir Rp20 triliun. Sebelumnya, BTN telah mengambil alih portofolio pinjaman pensiunan dan pra-pensiunan yang manfaat pensiunnya dikelola Taspen dengan nilai sekitar Rp12,58 triliun.
Sementara itu, melalui CLATA, BTN mengambil alih aset pinjaman senilai sekitar Rp7,34 triliun. Portofolio tersebut mencakup kredit bagi pensiunan dan pra-pensiunan dengan manfaat pensiun yang dikelola Asabri dan dana pensiun lainnya, serta pinjaman bagi karyawan aktif BUMN dan lembaga pemerintahan.
Corporate Secretary BTN Ramon Armando mengatakan transaksi tersebut merupakan bagian dari transformasi perseroan menuju konsep beyond mortgage.
“Transaksi ini merupakan bagian dari transformasi BTN menjadi bank beyond mortgage, di mana perseroan tidak hanya fokus pada pembiayaan perumahan, tetapi juga memperluas ekosistem layanan keuangan melalui penguatan segmen payroll loan, pensiunan, dan transactional banking,” ujar Ramon.
Menurut dia, segmen pensiunan dan payroll loan memiliki karakteristik pembayaran yang relatif stabil. Penguatan bisnis tersebut juga membuka peluang bagi BTN untuk meningkatkan dana murah, memperluas transaksi nasabah, sekaligus mengoptimalkan ekosistem layanan perbankan di berbagai daerah.
Pengalihan portofolio kredit pensiunan sendiri telah lebih dahulu efektif sejak 29 Juni 2026. BTN kemudian menyelesaikan tahap pertama akuisisi portofolio kredit pensiun SMBC Indonesia dengan nilai sekitar Rp12,6 triliun.
BTN menyebut seluruh portofolio yang diambil alih pada tahap tersebut merupakan kredit berkualitas atau performing loan.
Sementara untuk transaksi CLATA, penyelesaian dilakukan setelah seluruh persyaratan dalam perjanjian terpenuhi atau dikesampingkan oleh masing-masing pihak. Pada 14 Agustus 2026, BTN dan SMBC Indonesia menandatangani akta pengalihan (cessie) di hadapan notaris.
BTN juga telah membayarkan harga pembelian aset pinjaman kepada SMBC Indonesia sebagai bagian dari penyelesaian transaksi.
Ramon menyebut transaksi tersebut akan memberikan tambahan terhadap total aset BTN, terutama dari sisi portofolio kredit.
“Dampak dari fakta material tersebut adalah akan meningkatkan total aset Perseroan, khususnya portofolio kredit, yang diproyeksikan dapat membawa pengaruh baik bagi kelangsungan dan pertumbuhan bisnis Perseroan di masa depan,” ungkapnya.
Dengan selesainya rangkaian transaksi tersebut, BTN kini memiliki basis bisnis yang semakin beragam. Selain tetap menjadi salah satu pemain utama di sektor pembiayaan perumahan, perseroan mulai agresif membangun sumber pertumbuhan dari segmen pensiunan, payroll, serta layanan transaksi perbankan.
BTN sebelumnya menargetkan porsi kredit non-perumahan dapat meningkat secara bertahap hingga sekitar 30 persen dari total portofolio kredit dalam lima tahun ke depan.
Bagi BTN, langkah ini bukan sekadar menambah portofolio kredit. Akuisisi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem layanan keuangan yang dapat menjangkau nasabah sejak masa aktif bekerja hingga memasuki masa pensiun.
BTN juga menegaskan penyelesaian transaksi CLATA bukan merupakan transaksi afiliasi dan tidak mengandung benturan kepentingan sebagaimana dimaksud dalam POJK Nomor 42/POJK.04/2020.
