Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyapa warga Kampung Ledoktukangan saat meninjau penanganan pohon munggur berusia sekitar 150 tahun, Minggu (9/8/2026). Dok: Istimewa.
Jakarta – Pohon munggur berusia sekitar 150 tahun di perbatasan Kampung Ledoktukangan dan Tukangan, Kelurahan Tegalpanggung, Kemantren Danurejan, menghadirkan persoalan yang tidak sederhana. Di satu sisi, keberadaan pohon tua perlu dipertahankan. Di sisi lain, bagian batang dan dahannya dinilai berpotensi membahayakan warga.
Persoalan tersebut akhirnya dicari jalan keluarnya melalui gotong royong warga bersama Pemerintah Kota Yogyakarta. Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo turut turun langsung mendampingi warga dalam penanganan pohon tersebut, Minggu (9/8/2026).
Alih-alih menebang pohon hingga mati, penanganan dilakukan dengan mengurangi bagian batang dan dahan yang dinilai berisiko. Langkah ini diambil untuk mengurangi beban pohon dan potensi bahaya, sekaligus mempertahankan keberadaan pohon tua tersebut.
Bagi Hasto, penyelesaian persoalan di lingkungan masyarakat membutuhkan kepedulian bersama. Ia mengapresiasi warga yang ikut memikirkan keselamatan masyarakat lain meskipun persoalan tersebut tidak secara langsung berada di lahan milik mereka.
“Ini menunjukkan bahwa kepedulian warga masyarakat, meskipun yang akan terancam itu warga lain, tetapi kita punya rasa empati. Ini luar biasa, saya terima kasih sekali,” ujar Hasto.
Menurutnya, semangat gotong royong menjadi salah satu kekuatan masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan lingkungan. Pemerintah dan warga dapat saling menguatkan melalui komunikasi serta koordinasi yang baik.
“Guyub rukun, gayung sambut antara pemerintah dan warga masyarakat itu cukup bagus. Ada penyambung lidah masyarakat yang bisa menyampaikan aspirasi dan keluhan masyarakat sehingga bisa kita selesaikan bersama,” katanya.
Penanganan pohon tersebut sebelumnya telah dikoordinasikan dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta. Pemerintah membantu proses penanganan karena kondisi pohon dinilai perlu segera dikurangi risikonya bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Lurah Tegalpanggung Ismail Husen menjelaskan, pohon munggur tersebut diperkirakan telah berusia lebih dari 150 tahun. Sebelum dilakukan penanganan, warga sempat berencana mengumpulkan iuran untuk menebang pohon tersebut.
Rencana itu muncul karena mempertimbangkan potensi bahaya, tetapi tidak berlanjut setelah tukang tebang yang sebelumnya telah disiapkan mengundurkan diri. Warga kemudian berkoordinasi dengan berbagai pihak karena pohon berada di atas persil pribadi.
Dalam penanganan kali ini, pohon tidak ditebang hingga mati. Bagian batang dan dahan yang berisiko dikurangi, sedangkan perawatan berikutnya dapat dilakukan warga melalui pemangkasan secara berkala.
“Tidak sampai dimatikan karena kalau dimatikan dikhawatirkan lapuk, membusuk, bahkan bisa ambres dan memengaruhi tanah di sekitar pohon. Jadi batang dan dahannya dikurangi, kemudian selanjutnya warga bisa melakukan pruning,” jelas Ismail.
Gotong royong tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat dan pemerintah, antara lain pengurus RW 03 dan RW 04, RT 13 dan RT 16, warga Kampung Tukangan dan Ledoktukangan, Linmas, Kampung Tangguh Bencana, relawan se-Kemantren Danurejan, serta perangkat daerah.
Penanganan pohon munggur tua tersebut akhirnya menjadi contoh bahwa persoalan lingkungan dapat dicari solusinya melalui kolaborasi. Keselamatan warga tetap menjadi perhatian, sementara keberadaan pohon berusia puluhan tahun itu tetap dipertahankan.
Bagi warga Tegalpanggung, gotong royong bukan sekadar menyelesaikan persoalan hari itu. Lebih dari itu, kebersamaan antara warga dan pemerintah menjadi cara untuk menjaga lingkungan tetap aman sekaligus merawat apa yang masih bisa dipertahankan.
