Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A., Dok: Istimewa.
Jakarta – Perguruan tinggi tidak boleh berhenti hanya pada capaian akademik. Kampus harus menjadi pusat lahirnya gagasan, inovasi, dan pengabdian yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A., saat memberikan arahan dalam Executive Meeting bersama jajaran pimpinan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Rabu (8/7/2026).
Di hadapan rektor, wakil rektor, dekan, hingga para pimpinan unit kerja, Kamaruddin Amin menegaskan bahwa transformasi perguruan tinggi harus dimulai dari penguatan kepemimpinan, tata kelola, serta budaya kerja yang berorientasi pada hasil.
Menurutnya, keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah lulusan yang dihasilkan, tetapi juga sejauh mana keberadaan kampus mampu memberikan perubahan positif bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Ia mengatakan, selama ini perguruan tinggi keagamaan telah memberikan kontribusi besar melalui para alumninya yang tersebar di berbagai sektor kehidupan. Namun, tantangan ke depan menuntut kampus untuk terus memperluas dampak melalui riset yang aplikatif, inovasi yang bermanfaat, serta pengabdian masyarakat yang lebih terukur.
Lima Pilar Transformasi Perguruan Tinggi
Dalam kesempatan tersebut, Sekjen Kemenag mengajak seluruh jajaran pimpinan UIN Sunan Gunung Djati Bandung untuk memperkuat lima agenda utama transformasi perguruan tinggi keagamaan.
Kelima pilar tersebut meliputi penguatan budaya kinerja yang akuntabel, peningkatan kualitas pelayanan publik, perluasan jejaring kerja sama lintas sektor, penguatan hilirisasi riset dan inovasi, serta percepatan internasionalisasi kampus.
Bagi Kamaruddin, perguruan tinggi Islam memiliki peran strategis dalam membangun peradaban. Kampus bukan hanya tempat mencetak lulusan, tetapi juga ruang pembentukan karakter, nilai, dan kontribusi sosial.
Ia pun menyampaikan permohonan maaf apabila arahannya terdengar seperti memberikan nasihat. Menurutnya, salah satu tugas Sekretaris Jenderal Kementerian Agama adalah saling mengingatkan agar seluruh perguruan tinggi terus bergerak menuju kualitas yang lebih baik.
“Mohon maaf jika terkesan menggurui. Tugas saya di antaranya adalah mengingatkan kita semua, karena tujuan perguruan tinggi didirikan adalah untuk memberikan manfaat yang besar,” tuturnya.
Suasana Executive Meeting berlangsung hangat ketika Kamaruddin menutup arahannya dengan candaan bahwa dirinya harus segera mengakhiri penyampaian karena telah diingatkan oleh staf.
“Saya sudah disuruh berhenti oleh staf saya,” ujarnya sambil tersenyum, yang disambut tawa para peserta.
UIN Sunan Gunung Djati Bandung Siap Perkuat Transformasi
Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., menyampaikan apresiasi atas kehadiran Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI yang memberikan penguatan sekaligus motivasi kepada seluruh pimpinan universitas.
Menurutnya, arahan yang disampaikan Sekjen Kemenag menjadi bekal penting bagi universitas untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola, pelayanan akademik, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Tentunya dengan berbagai arahan yang disampaikan menjadi bekal penting untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola, pelayanan akademik, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat,” jelas Rosihon.
Melalui Executive Meeting tersebut, UIN Sunan Gunung Djati Bandung menegaskan komitmennya untuk mendukung agenda transformasi Kementerian Agama melalui penguatan tata kelola yang akuntabel, budaya kerja berintegritas, serta pengembangan pendidikan tinggi Islam yang berdaya saing global.
Perguruan tinggi keagamaan diharapkan tidak hanya menjadi tempat mencetak generasi berilmu, tetapi juga menjadi kekuatan perubahan yang menghadirkan manfaat luas bagi umat, bangsa, dan negara.
