Overview capaian kinerja keuangan 2025 PT Geo Dipa Energi yang dipaparkan dalam RDP Komisi XI DPR RI terkait laporan kinerja SMV Kementerian Keuangan Tahun 2025. Dok: Tangkapan layar YouTube TVR Parlemen.
Jakarta – Kinerja positif berhasil ditorehkan PT Geo Dipa Energi sepanjang 2025. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XI DPR RI terkait laporan kinerja Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan Tahun 2025, Direktur Utama Yudistian Yunis memaparkan capaian perusahaan yang dinilai semakin memperkuat posisi Geo Dipa sebagai motor pengembangan energi panas bumi nasional.
Dalam pemaparannya, Yudistian menyampaikan bahwa Geo Dipa berhasil membukukan pendapatan lebih dari Rp1 triliun atau mencapai 102 persen dari target 2025. Capaian tersebut turut ditopang peningkatan kinerja operasional dan efisiensi biaya produksi.
“Pendapatan kami tahun 2025 sudah melebihi Rp1 triliun, EBITDA mencapai Rp565 miliar, dan laba bersih mencapai Rp261 miliar atau 147 persen dari target,” ujar Yudistian di hadapan pimpinan dan anggota Komisi XI DPR RI, Senin (25/5/2026).
Geo Dipa merupakan BUMN panas bumi yang mayoritas sahamnya dimiliki Kementerian Keuangan sebesar 94,5 persen, sementara 5,5 persen sisanya dimiliki PLN. Perusahaan mendapat mandat strategis dari pemerintah untuk mempercepat pengembangan panas bumi nasional, terutama di wilayah yang memiliki risiko tinggi dan belum banyak diminati investor.
Saat ini Geo Dipa memfokuskan pengembangan utama di wilayah Dieng, Jawa Tengah dan Patuha, Jawa Barat. Kedua kawasan tersebut ditargetkan berkembang hingga kapasitas masing-masing mencapai 400 MW.
Tak hanya itu, perusahaan juga menjalankan penugasan eksplorasi di sejumlah wilayah baru seperti Candradimuka, Arjuno-Welirang, Jailolo di Maluku Utara, hingga Waisano di Flores Barat melalui dukungan pendanaan pemerintah dan lembaga internasional.
Secara operasional, Geo Dipa mencatat produksi listrik sebesar 763 GWh atau 101 persen dari target 2025. Produksi tersebut berasal dari wilayah Dieng sebesar 261,7 GWh dan Patuha sebesar 501,7 GWh.
Kinerja pembangkit juga ditopang tingkat availability factor yang tinggi. Dieng mencapai 87,3 persen dan Patuha mencapai 99,2 persen. Sementara rata-rata pembangkitan di Patuha berhasil mencapai 61 MW atau melampaui target 60 MW.
Menariknya, capaian tersebut diraih di tengah tantangan teknis yang cukup besar. Geo Dipa sempat mengalami kerusakan turbin rotor pada unit Dieng 1. Namun perusahaan mampu menyelesaikan perbaikan dalam waktu hanya 55 hari sehingga operasional kembali berjalan.
“Alhamdulillah dalam tempo 55 hari kami bisa menyelesaikan perbaikan dan kembali melanjutkan operasi,” kata Yudistian.
Selain menjaga performa operasi, Geo Dipa juga mempercepat sejumlah proyek strategis. Pembangunan Patuha 2 disebut sudah lebih cepat dari target, sementara proyek Dieng 2 mulai memasuki tahap konstruksi awal. Perusahaan juga berhasil memperoleh tambahan fasilitas pinjaman untuk mendukung pengembangan kedua proyek tersebut.
Dalam bidang eksplorasi, Geo Dipa tengah memfinalisasi pendanaan eksplorasi Patuha Utara melalui skema hibah serta memulai konstruksi sipil pengeboran Jailolo yang ditargetkan berjalan pertengahan tahun ini.
Tak hanya fokus pada pembangkit listrik, Geo Dipa mulai mengembangkan potensi hilirisasi panas bumi melalui pemanfaatan mineral ikutan seperti litium dan koloid silika. Perusahaan juga mengembangkan pilot plant pemanfaatan brine panas bumi di Dieng 8 sebagai bagian dari inovasi energi terbarukan nasional.
Di bidang transformasi perusahaan, Geo Dipa juga melakukan modernisasi sistem melalui migrasi SAP menuju SAP S/4HANA, pembentukan ESG Framework, PMO Framework, hingga penguatan budaya perusahaan LIGHT.
Komitmen tata kelola dan keberlanjutan perusahaan turut mendapat pengakuan nasional maupun internasional. Geo Dipa memperoleh nilai Good Corporate Governance (GCG) sebesar 89,633 dari BPKP, peringkat AAA dari Fitch Rating, serta skor ESG 63 dari S&P Global.
Tak hanya itu, perusahaan juga meraih Proper Hijau untuk wilayah operasi Dieng dan Patuha, sembilan sertifikasi ISO, penghargaan Annual Report Award peringkat pertama, hingga Indonesia Regulatory Compliance Award.
Dalam lima tahun terakhir, Geo Dipa mencatat tren pertumbuhan yang konsisten. Pendapatan perusahaan tumbuh rata-rata 4,36 persen, sementara laba komprehensif meningkat hingga 6,3 persen. Posisi kas perusahaan bahkan mendekati Rp1 triliun yang akan dimanfaatkan sebagai modal kerja dan pengembangan proyek-proyek baru.
Meski mencatat berbagai capaian positif, Geo Dipa tetap menyoroti sejumlah tantangan industri panas bumi ke depan, mulai dari keekonomian tarif, tingginya risiko eksplorasi, keterbatasan pembiayaan, hingga aspek sosial dan lingkungan di sekitar wilayah operasi.
Namun di tengah tantangan tersebut, Geo Dipa optimistis panas bumi akan menjadi salah satu tulang punggung ketahanan energi nasional sekaligus penggerak utama transisi menuju energi hijau Indonesia.
