Staf Khusus Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara Bidang Manajemen Kebijakan dan Strategi Konstruksi, Danis Hidayat Sumadilaga. Dok: Istimewa.
Jakarta – Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) disebut tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan perencanaan matang, pengendalian ketat, serta kolaborasi lintas sektor agar proyek strategis nasional tersebut berjalan sesuai target.
Hal itu disampaikan Danis Hidayat Sumadilaga saat menjadi narasumber dalam Kuliah Tamu Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) Institut Teknologi Bandung yang digelar secara daring, Jumat (8/5/2026).
Dalam pemaparannya bertajuk “Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan IKN”, Danis membeberkan strategi besar pembangunan ibu kota baru yang selama ini dinilai publik hanya dari potongan informasi di media sosial.
“Pembangunan IKN bukan sekadar memindahkan gedung pemerintahan, tetapi bagian dari strategi besar pemerataan pembangunan nasional,” ujar Danis.
Ia menjelaskan, pemindahan ibu kota telah menjadi gagasan sejak era Soekarno. Menurutnya, Jakarta selama ini memikul beban terlalu besar sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, bisnis, hingga kepadatan penduduk.
Karena itu, pembangunan IKN di Kalimantan diharapkan mampu menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus mempercepat pemerataan pembangunan Indonesia bagian timur.
Danis juga mengungkapkan bahwa pembangunan IKN disusun melalui tahapan perencanaan yang sangat detail, mulai dari rencana induk, regulasi, hingga pengembangan kawasan berbasis konsep kota modern dan berkelanjutan.
Menurutnya, pembangunan IKN mengusung delapan prinsip utama dengan 24 indikator kinerja atau Key Performance Indicators (KPI). Beberapa fokus utama yang menjadi perhatian antara lain konsep bangunan hijau, gedung cerdas, efisiensi energi, infrastruktur terpadu, hingga keterlibatan masyarakat dalam pembangunan.
Tak hanya itu, kompleksitas pembangunan tahap awal IKN juga tergolong sangat besar. Sedikitnya terdapat 115 paket konstruksi yang dikerjakan di kawasan inti pusat pemerintahan, ditambah proyek pendukung seperti jalan tol, bendungan, jaringan air minum, energi, telekomunikasi, hingga infrastruktur dasar lainnya.
“Pembangunan IKN merupakan pekerjaan besar yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Tidak mungkin dilakukan sendiri oleh satu institusi saja,” katanya.
Kuliah tamu yang diikuti lebih dari 200 peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, dan praktisi itu juga membahas tantangan pembangunan IKN, mulai dari konektivitas kawasan, pengelolaan lahan, pembiayaan pembangunan, hingga kebutuhan sumber daya manusia yang kompeten di bidang konstruksi dan infrastruktur.
Di akhir pemaparannya, Danis memberi pesan khusus kepada generasi muda agar tidak hanya mengandalkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun pengalaman dan menjaga integritas.
“Kompetensi harus didukung pengalaman. Integritas juga harus dijaga karena tidak cukup hanya pintar saja. Dan yang terakhir, bangun networking seluas mungkin,” tutupnya.
