Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) RI, Dadan Hindayana, meresmikan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 3T di Dusun Gitak Demung. Dok: Istimewa.
Jakarta – Program makan bergizi gratis terus diperluas hingga wilayah terpencil. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) RI, Dadan Hindayana, meresmikan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 3T di Dusun Gitak Demung, Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Selasa (12/5).
Kehadiran dapur modern tersebut menjadi langkah strategis pemerintah dalam memastikan pelayanan gizi menjangkau wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal.
Peresmian dapur SPPG 3T dilakukan bersama jajaran pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Dapur ini akan menjadi pusat penyediaan makanan bergizi gratis bagi kelompok rentan, terutama anak-anak dan ibu hamil di Lombok Utara.
Dalam sambutannya, Dadan menegaskan bahwa pembangunan dapur SPPG 3T merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah menghadirkan pelayanan gizi hingga ke pelosok daerah. Menurutnya, program tersebut tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka ruang pemberdayaan ekonomi bagi warga sekitar.
“SPPG 3T ini untuk memastikan pelayanan gizi bisa menjangkau wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal,” ujar Dadan Hindayana.
Ia juga mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat Lombok Utara dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dukungan masyarakat dinilai menjadi faktor penting sehingga pembangunan dapur SPPG 3T di wilayah tersebut dapat terealisasi.
Menurut Dadan, pembangunan dapur dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk dukungan dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia bersama elemen masyarakat lainnya. Konsep gotong royong tersebut disebut menjadi kekuatan utama percepatan program MBG secara nasional.
“Kita ingin masyarakat ikut terlibat dan sama-sama mengawasi pelaksanaan program ini,” katanya.
Dadan menjelaskan, masyarakat lokal nantinya akan dilibatkan lebih luas, mulai dari penyediaan bahan pangan hingga pengawasan kualitas makanan yang diproduksi dapur SPPG. Dengan pola tersebut, program MBG diharapkan tidak hanya meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga menggerakkan ekonomi desa.
Secara nasional, BGN mencatat saat ini telah berdiri sekitar 1.400 dapur SPPG di berbagai daerah di Indonesia. Seluruh pembangunan dapur dilakukan melalui kolaborasi dan kontribusi masyarakat tanpa menggunakan dana APBN secara langsung.
Ia menyebut, dalam kurun waktu sekitar 1,4 tahun, program MBG telah mampu menjangkau sekitar 62,1 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Capaian tersebut dinilai sebagai hasil kerja bersama antara pemerintah pusat, daerah, aparat, hingga masyarakat.
Sementara itu, Bupati Lombok Utara, Najmul Akhyar, menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak dapat dipisahkan dari peningkatan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, program pemenuhan gizi dianggap menjadi investasi penting bagi masa depan generasi muda.
Najmul meminta seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program menjaga kualitas makanan yang diberikan kepada masyarakat penerima manfaat. Ia menilai kualitas makanan menjadi faktor utama keberhasilan program MBG.
“Yang paling penting adalah kualitas makanan harus benar-benar dijaga,” tegas Najmul Akhyar.
Dengan mulai beroperasinya dapur SPPG 3T di Kecamatan Gangga, pemerintah berharap akses makanan sehat dan bergizi bagi masyarakat di wilayah terpencil Lombok Utara semakin merata. Program tersebut juga diharapkan menjadi penggerak ekonomi lokal melalui keterlibatan petani dan pelaku usaha pangan di sekitar dapur pelayanan gizi.
