Jakarta – Di banyak tempat, bencana tidak benar-benar pergi ketika air sudah surut atau tanah sudah berhenti bergerak. Ia tertinggal dalam dinding rumah yang retak, dalam halaman yang berubah menjadi lumpur, dan dalam ingatan warga yang kehilangan tempat kembali.
Dari ruang-ruang seperti itulah sepekan perjalanan kerja Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letjen TNI Suharyanto bergerak menyusuri pemulihan yang tidak hanya dibangun dengan kebijakan, tetapi juga dengan kehadiran langsung di lapangan.
Perjalanan itu merentang dari Tapanuli Utara, ke Tapanuli Tengah, hingga Aceh Tamiang. Tiga wilayah, tiga wajah bencana, namun satu benang merah yang sama: upaya memulihkan kehidupan agar kembali berdiri di atas tanah yang pernah runtuh.
Di Tapanuli Utara, langkah itu dimulai dari Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adian Koting. Di sana, tanah yang dulu menjadi saksi bencana hidrometeorologi basah kini perlahan berubah menjadi kawasan hunian baru. Sebanyak 103 unit hunian tetap (huntap) sedang dibangun, menjadi simbol bahwa negara tidak berhenti pada fase tanggap darurat.
Di antara rangka besi dan tumpukan material bangunan, Suharyanto meninjau satu per satu progres pembangunan. Ia tidak hanya melihat struktur rumah, tetapi juga membaca masa depan yang sedang disusun ulang.
Dari total 103 unit tersebut, 70 unit tahap awal ditargetkan rampung pada Mei 2026, sementara 33 unit lainnya memasuki tahap pembangunan lanjutan. Setiap rumah dirancang sebagai ruang hidup yang utuh dua kamar tidur, kamar mandi, dapur menyatu, lantai keramik, hingga halaman kecil di depan rumah.
Namun yang paling penting bukan sekadar bentuk bangunan itu sendiri, melainkan lokasinya. Kawasan relokasi dipastikan berada di area yang aman dari ancaman banjir dan longsor, sekaligus memiliki ketahanan terhadap guncangan gempa. Rumah-rumah itu tidak hanya dibangun untuk dihuni, tetapi untuk bertahan.
Di balik pembangunan fisik itu, ada fase transisi yang tidak kalah penting: kehidupan sementara warga yang masih menunggu. Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana terus menyalurkan Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600.000 per bulan bagi setiap kepala keluarga.
Bagi warga yang belum bisa menempati hunian tetap, DTH bukan sekadar bantuan finansial, tetapi penopang hidup yang menjaga mereka tetap bertahan di tengah ketidakpastian. Hingga kini, masih terdapat warga yang tinggal di hunian sementara maupun menumpang di rumah kerabat, menunggu rumah baru mereka benar-benar selesai.
Dari Tapanuli Utara, perjalanan bergeser ke Tapanuli Tengah. Jika di lokasi sebelumnya fokusnya adalah pembangunan rumah, maka di sini wajah pemulihan tampil dalam bentuk lain: uang yang menjadi jembatan antara kerusakan dan perbaikan.
Pada Selasa (21/4), Kepala BNPB memimpin penyerahan bantuan stimulan rumah rusak tahap pertama senilai Rp31,2 miliar. Bantuan itu diberikan kepada warga terdampak Siklon Senyar yang melanda wilayah tersebut.
Sebanyak 1.098 kepala keluarga menerima bantuan untuk rumah rusak ringan, sementara 493 kepala keluarga lainnya untuk kategori rumah rusak sedang. Bantuan ini bukan sekadar angka dalam laporan, tetapi menjadi modal awal bagi warga untuk kembali memperbaiki rumah mereka sendiri.
Namun di balik distribusi bantuan, ada pesan yang lebih dalam yang disampaikan Suharyanto: pemulihan tidak boleh tersendat oleh data yang tertinggal. Ia meminta pemerintah daerah mempercepat pelengkapan data agar warga yang belum terakomodasi dapat segera menerima haknya pada tahap berikutnya.
Di titik ini, terlihat bahwa pemulihan bukan hanya urusan anggaran, tetapi juga urusan kecepatan administrasi dan ketepatan data dua hal yang menentukan seberapa cepat warga bisa kembali hidup normal.
Lebih jauh lagi, pemerintah juga menyiapkan skala pemulihan yang lebih besar. Di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, pembangunan hunian tetap terus berjalan untuk puluhan ribu unit rumah rusak berat, sebagai bagian dari rekonstruksi jangka panjang.
Di tengah itu, kerja sama lintas lembaga juga terus bergerak, melibatkan TNI, Polri, dan Kementerian PUPR dalam penanganan infrastruktur seperti normalisasi sungai dan perbaikan jembatan, agar bencana tidak kembali datang di titik yang sama.
Namun mungkin wajah paling manusiawi dari rangkaian sepekan itu justru terlihat di Aceh Tamiang.
Di Desa Sukajadi dan Bandar Mahligai, Suharyanto meninjau hunian sementara (huntara) bagi warga yang sebelumnya tinggal di rumah sewa dan terdampak banjir akibat Siklon Senyar. Kelompok ini berada di luar skema penerima Dana Tunggu Hunian, karena tidak memiliki rumah atas nama sendiri.
Di sinilah pemulihan menghadapi kenyataan yang lebih kompleks: tidak semua korban bisa masuk dalam kategori administratif yang rapi.
Karena itu, pemerintah mengambil langkah berbeda. Huntara dibangun sebagai ruang singgah bagi mereka yang tidak memiliki tempat kembali, meskipun hanya bersifat sementara.
Suharyanto meminta agar penyelesaian pembangunan dipercepat, bahkan memberi batas waktu lima hari untuk perbaikan sejumlah fasilitas agar segera dapat dihuni.
Namun lebih dari itu, ia hadir langsung di tengah warga. Berbicara, mendengar, dan menyaksikan bagaimana bencana tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga merombak cara hidup sehari-hari masyarakat.
Bantuan sembako dan bingkisan anak-anak dibagikan, tetapi yang lebih penting dari itu adalah pesan bahwa mereka tidak berjalan sendirian dalam proses panjang ini.
Jika seluruh rangkaian sepekan itu ditarik dalam satu garis besar, maka yang terlihat bukan sekadar agenda kunjungan kerja, melainkan sebuah proses panjang menyusun kembali kehidupan yang sempat terpecah.
Ada rumah yang sedang dibangun, ada bantuan yang sedang disalurkan, ada data yang sedang dilengkapi, dan ada warga yang sedang menunggu kepastian.
Semua bergerak dalam satu arah yang sama: pemulihan.
Dan di tengah semua itu, satu hal menjadi jelas pemulihan pascabencana bukan hanya tentang mengembalikan apa yang hilang, tetapi tentang membangun kembali rasa aman, kepastian, dan harapan yang sempat runtuh bersama bencana.
Di ujung sepekan itu, perjalanan Kepala BNPB seolah meninggalkan satu kesimpulan yang tidak tertulis: bahwa dari reruntuhan, kehidupan tidak hanya bisa dibangun kembali, tetapi juga bisa dibuat lebih kuat dari sebelumnya.
