Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana. Dok: Istimewa.
Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, meluruskan isu yang beredar terkait kebutuhan hingga 19.000 ekor sapi dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dadan menegaskan bahwa angka tersebut bukan merupakan kebutuhan riil harian, melainkan hanya simulasi atau pengandaian dalam perhitungan logistik.
“Ini hanya pengandaian. Kalau seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara serentak memasak daging sapi, maka tinggal dikalikan jumlah SPPG dengan satu ekor sapi,” jelas Dadan usai meresmikan SPPG Pemuda Muhammadiyah di Bekasi, Selasa (21/4).
Ia menjelaskan, dalam satu kali proses memasak, satu SPPG dapat membutuhkan sekitar 350 hingga 382 kilogram daging sapi, yang setara dengan satu ekor sapi untuk kebutuhan dagingnya.
Namun demikian, ia menekankan bahwa dalam implementasinya, menu MBG tidak bersifat seragam secara nasional. BGN justru menerapkan pendekatan fleksibel dengan variasi menu seperti telur, ayam, ikan, hingga daging sapi.
Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di pasar. Dadan mengungkapkan, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa lonjakan permintaan secara serentak dapat berdampak signifikan terhadap harga.
Ia mencontohkan saat peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu, di mana sekitar 36 juta penerima manfaat mengonsumsi menu berbasis telur.
“Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton, dan dampaknya harga telur sempat naik Rp3.000,” ungkapnya.
Karena itu, BGN memastikan bahwa pelaksanaan MBG akan disesuaikan dengan potensi sumber daya lokal dan preferensi masyarakat di masing-masing daerah, guna menghindari tekanan berlebih terhadap rantai pasok pangan.
Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan program sekaligus mendukung pemberdayaan ekonomi lokal.
