Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Dok: Istimewa.
Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengambil peran sentral dalam memastikan layanan kesehatan pascabencana di wilayah Sumatera tetap berjalan optimal. Melalui Health Emergency Operation Center (HEOC), Kemenkes mengoordinasikan sedikitnya 5.900 relawan kesehatan yang disebar ke berbagai titik terdampak bencana.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa para relawan tersebut ditempatkan di sekitar seribu lokasi pengungsian yang menampung kurang lebih 300 ribu penyintas, termasuk di wilayah-wilayah yang akses jalannya terputus akibat bencana.
“Kami tidak hanya menggerakkan tim internal Kemenkes, tetapi juga memobilisasi relawan di luar Kemenkes. Modal sosial bangsa Indonesia sangat besar dan itu kami gerakkan bersama,” ujar Budi dalam rapat kerja bersama DPR di Jakarta, Senin.
Dari total relawan yang terlibat, sebanyak 1.237 orang merupakan tenaga kesehatan yang secara langsung dikirim oleh Kemenkes. Sementara sisanya berasal dari berbagai organisasi profesi, lembaga kemanusiaan, dan perguruan tinggi, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dompet Dhuafa, Muhammadiyah, hingga organisasi internasional Médecins Sans Frontières (MSF).
Kemenkes juga memastikan bahwa relawan yang diterjunkan memiliki latar belakang keahlian yang beragam, mulai dari dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, perawat, tenaga farmasi, kesehatan lingkungan, ahli gizi, vaksinator, hingga tenaga kesehatan masyarakat.
Tidak hanya fokus pada layanan medis fisik, Kemenkes turut melakukan inovasi dengan mengirimkan dokter dan psikolog klinis ke lokasi pengungsian. Langkah ini diambil untuk menangani dampak psikologis yang dialami para penyintas, khususnya anak-anak yang kehilangan orang tua atau anggota keluarga akibat bencana.
“Banyak anak-anak yang mengalami tekanan mental. Mereka butuh pendampingan agar bisa kembali ceria dan pulih secara psikologis,” jelas Budi.
Sebagai langkah pencegahan penyakit menular, Kemenkes juga menggelar program imunisasi khusus campak di sejumlah lokasi pengungsian. Program ini menyasar 9.514 anak usia 9 hingga 59 bulan, terutama di daerah yang ditemukan suspek campak seperti Aceh Tamiang, Langsa, Pidie Jaya, Bireuen, Pidie, dan Aceh Utara.
Melalui koordinasi terpadu dan pelibatan berbagai elemen, Kemenkes berharap respons kesehatan pascabencana di Sumatera dapat berjalan cepat, merata, dan berkelanjutan demi melindungi kelompok rentan di pengungsian.
