Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi. Dok: Istimewa.
Jakarta – Peringatan Hari Bhakti Transmigrasi (HBT) ke-75 berlangsung penuh haru di Makam Pionir Transmigrasi, Desa Sukra, Indramayu, pada Rabu (10/12). Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi memimpin langsung upacara sekaligus tabur bunga untuk mengenang para calon transmigran yang menjadi korban kecelakaan tragis pada 1974.
Tragedi tersebut menjadi sejarah kelam dunia transmigrasi. Sebanyak 70 orang calon transmigran dari Boyolali yang sedang dalam perjalanan menuju Lampung dan Sumatera Selatan mengalami kecelakaan maut setelah bus yang mereka tumpangi bertabrakan dengan bus dari arah berlawanan di Jembatan Sukra.
Baca juga: Sufmi Dasco Tindaklanjuti Keluhan Warga Tangerang lewat BPJS
Kobaran api yang muncul setelah benturan hebat itu merenggut 67 nyawa. Hanya tiga anak kecil yang selamat, dua di antaranya adalah Suyamto dan Jaelani.
Suyamto, yang kini menjadi saksi hidup peristiwa tersebut, kembali hadir dalam peringatan HBT tahun ini. Dengan suara yang bergetar, ia mengenang perjalanan yang awalnya penuh harapan itu.
“Kami hanya ingin segera sampai dan memulai hidup baru. Tapi takdir berkata lain,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Wamen Viva Yoga mengajak seluruh peserta upacara untuk mendoakan para korban yang telah mendahului. Ia menegaskan bahwa para calon transmigran itu pergi dengan niat mulia untuk memperbaiki taraf hidup.
“Mereka adalah pionir. Dengan keberanian, mereka meninggalkan kampung halaman demi masa depan yang lebih baik,” kata Viva Yoga.
Ia menerangkan bahwa transmigran generasi awal menghadapi tantangan berat: wilayah baru yang terpencil, kondisi alam yang sulit diprediksi, serta keterbatasan fasilitas. Namun kegigihan mereka berhasil membuka lahan, membangun permukiman, dan menjadi cikal bakal pusat ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.
Baca juga: Ketua KPK Setyo Budianto Soroti Predikat WBK: Jangan Sekadar Simbol
“Dulu mereka disebut pahlawan pembangunan, sekarang mereka adalah patriot bangsa. Mereka tidak hanya mengolah lahan, tetapi juga mempererat persatuan melalui akulturasi budaya dan kehidupan sosial yang baru,” tambahnya.
Sejak transmigrasi digulirkan resmi pada 1950, generasi demi generasi kini tumbuh dan berperan dalam berbagai bidang. Dari kepala desa hingga anggota DPR, banyak di antara anak cucu transmigran yang kini menempati posisi penting di daerah maupun pusat.
Pada kesempatan tersebut, Wamen juga menyerahkan santunan kepada dua penyintas tragedi, Suyamto dan Jaelani, serta kepada penjaga Makam Pionir Transmigrasi, Suyanto.
Kementrans Salurkan Bantuan Bencana
Di hadapan awak media, Viva Yoga turut menyampaikan perkembangan penanganan bencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Ia memastikan bahwa Kementerian Transmigrasi telah menyalurkan bantuan, khususnya di daerah yang memiliki kawasan transmigrasi.
“Pak Menteri sudah turun langsung ke lokasi. Kami fokus pada wilayah transmigrasi seperti Bireuen dan Bener Meriah. Semua kawasan terdampak akan kami pantau,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa penanganan bencana dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar pemulihan dapat berjalan cepat dan tepat sasaran.
Baca juga: PNM Kendari Gelar PKU Akbar 2025, Dorong Kemandirian Finansial Ibu-Ibu Pelaku UMKM
Melalui rangkaian peringatan ini, Kementrans ingin memastikan bahwa perjuangan para pionir transmigrasi tetap diingat, sekaligus menunjukkan komitmen berkelanjutan dalam mendampingi masyarakat, baik dalam pembangunan maupun saat terjadi bencana.
