Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Dok: Istimewa.
Jakarta – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, hadir di kota Berlin dengan satu pesan besar, Jakarta siap bertransformasi menjadi kota global, dan perjalanan itu harus ditempuh bersama dunia.
Pesan itu ia sampaikan saat menjadi pembicara utama dalam pembukaan AsiaBerlin Summit 2025, sebuah forum internasional yang mempertemukan pemimpin kota, investor, dan pelaku inovasi dari dua benua.
Di Rotes Rathaus, gedung balai kota bersejarah Berlin, Pramono berbicara tidak hanya mewakili Jakarta, tetapi mewakili semangat kota yang sedang berubah.
Baca juga: DPR RI Setujui Tujuh Calon Anggota Komisi Yudisial Periode 2025-2030
Ia mengingatkan bahwa Jakarta tengah memasuki dekade penting, sebuah fase penataan besar-besaran dari kota metropolitan menuju kota global berstandar dunia. Dan Berlin, yang telah menjadi mitra Sister City Jakarta selama 31 tahun, menjadi bagian penting dari arah baru itu.
Pramono memaparkan bagaimana Jakarta kini bergerak cepat membenahi transportasi publiknya, memperluas jangkauan Transjabodetabek, dan meningkatkan jumlah bus listrik menjadi lebih dari 10 ribu unit pada 2030.
Ia juga menekankan komitmen terhadap transisi energi bersih, serta rencana pembangunan 300 ruang terbuka hijau baru yang menjadi tulang punggung kota berkelanjutan.
Namun, yang membuat delegasi internasional tertarik bukan hanya rencana fisik Jakarta. Pramono datang membawa bukti bahwa Indonesia adalah rumah bagi inovasi. Ia mengajak beberapa startup nasional, seperti Crustea, Indera Agri, dan Inspigo,
untuk menunjukkan bahwa Jakarta tidak sekadar mengikuti perkembangan teknologi dunia, tetapi ikut menciptakannya. Ia ingin dunia melihat bahwa Jakarta juga produsen idebukan hanya pasar.
Dalam suasana dialog antar-peradaban, Pramono menegaskan bahwa kota-kota dunia menghadapi tantangan yang semakin mirip: mobilitas yang rumit, perubahan iklim, urbanisasi cepat, dan kesenjangan sosial yang makin terasa. Karena itu, kata Pramono, kota tidak lagi bisa bekerja sendiri.
Ia mengajak Berlin, dan dunia, untuk menjadikan kolaborasi sebagai fondasi baru.
“Kita bisa menjadi contoh,” ujarnya, “bahwa kota-kota dunia mampu membangun masa depan bersama, bukan sekadar bersaing.”
Dengan kehadiran di Berlin pada tahun ke-31 kerja sama Jakarta-Berlin, Pramono tidak hanya berbicara tentang masa depan Jakarta, tetapi juga menegaskan posisi ibu kota sebagai bagian penting dari lanskap inovasi Asia.
Sebuah kota yang tidak lagi berada di pinggiran percakapan global, tetapi sudah duduk di mejanya membawa gagasan, teknologi, dan ambisi besar.
