Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero) menempatkan Stasiun Manggarai sebagai jantung mobilitas transportasi perkotaan Jabodetabek di tengah meningkatnya kepadatan aktivitas masyarakat urban.
Penguatan peran Manggarai dilakukan sebagai respons atas pola perjalanan harian warga kota yang semakin intens, lintas wilayah, dan menuntut efisiensi waktu.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa Stasiun Manggarai tidak lagi sekadar menjadi titik naik dan turun penumpang, melainkan simpul strategis yang menghubungkan berbagai layanan transportasi massal dalam satu ekosistem perjalanan yang saling terintegrasi.
“Sebagai simpul utama, Manggarai memastikan pergerakan masyarakat antarkawasan dapat berlangsung lebih tertata dan saling terhubung, terutama di tengah dinamika mobilitas perkotaan yang terus meningkat,” ujar Anne.
Peran tersebut sejalan dengan gambaran mobilitas nasional yang tercermin dalam Statistik Mobilitas Penduduk dan Tenaga Kerja 2024 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
Data tersebut menunjukkan kawasan perkotaan didominasi penduduk usia produktif dengan frekuensi perjalanan harian yang tinggi, terutama untuk bekerja, mengakses layanan publik, dan menunjang aktivitas ekonomi.
BPS juga mencatat bahwa kawasan dengan akses transportasi publik yang baik cenderung menjadi pusat konsentrasi penduduk. Dalam keterbatasan ruang perkotaan, kemudahan akses menjadi faktor utama dalam menentukan pilihan tempat tinggal, karena memungkinkan masyarakat menjangkau berbagai kebutuhan harian tanpa harus menempuh perjalanan panjang.
Kondisi tersebut tercermin dari data internal KAI yang menunjukkan konsistensi volume penumpang di Stasiun Manggarai selama tiga tahun terakhir. Pada 2023, jumlah penumpang KRL yang melalui Manggarai tercatat mencapai 5.142.739 orang. Angka ini meningkat menjadi 5.575.711 penumpang pada 2024 dan tetap berada di level tinggi dengan 5.456.309 penumpang sepanjang 2025.
Stasiun Manggarai juga berperan penting sebagai penghubung menuju Bandara Soekarno-Hatta melalui layanan Commuter Line Bandara. Pertumbuhan jumlah penumpang pada layanan ini menunjukkan tren positif, dari 1.970.531 penumpang pada 2023 menjadi 2.242.536 penumpang pada 2024, dan kembali meningkat menjadi 2.346.934 penumpang pada 2025.
Menurut Anne, tren tersebut mencerminkan kebutuhan masyarakat terhadap konektivitas antarsimpul transportasi utama yang mampu menghubungkan kawasan hunian, pusat bisnis, hingga layanan transportasi jarak jauh secara efisien. Integrasi di Manggarai memungkinkan perjalanan dilakukan lebih ringkas tanpa harus berganti moda secara berulang.
Dalam konteks perkotaan yang terus berkembang dengan keterbatasan lahan, KAI melihat integrasi transportasi sebagai kunci dalam menjaga efisiensi mobilitas dan kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, KAI terus memperkuat keterhubungan antarlayanan, meningkatkan keandalan operasional, serta memastikan simpul-simpul utama seperti Manggarai mampu berfungsi optimal sebagai pusat konektivitas.
“Transportasi publik yang terintegrasi bukan hanya soal perjalanan, tetapi tentang bagaimana masyarakat urban bisa menjalani aktivitas sehari-hari secara lebih sederhana, efisien, dan saling terhubung,” tutup Anne.
