Dok: Istimewa.
Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus mendorong pengembangan layanan kesehatan mental berbasis web sebagai solusi strategis untuk mengatasi keterbatasan akses layanan kesehatan jiwa di Indonesia. Inovasi ini dinilai mampu menjawab tantangan geografis, keterbatasan tenaga profesional, serta stigma yang masih melekat pada isu kesehatan mental.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi menegaskan bahwa persoalan kesehatan mental di Indonesia sangat kompleks karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari biologis, psikologis, hingga sosial. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan layanan yang lebih inklusif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Tantangan kesehatan mental sangat kompleks. Faktor biologis, psikologis, dan sosial saling berkaitan. Karena itu, inovasi layanan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda,” ujar Imran, Kamis (8/1/2026).
Dalam konteks tersebut, Kemenkes mengapresiasi kolaborasi antara Universitas YARSI dengan platform layanan kesehatan mental This Way Up dari Australia melalui lokakarya adopsi pengetahuan. Menurut Imran, kerja sama ini sejalan dengan upaya Kemenkes dalam mendorong transformasi sistem kesehatan agar layanan kesehatan mental semakin mudah diakses masyarakat.
Data Kemenkes menunjukkan bahwa sekitar 2 persen orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Dari jumlah tersebut, 1,4 persen mengalami depresi, dengan mayoritas berasal dari kelompok usia 15–24 tahun. Selain itu, sekitar empat dari setiap 1.000 orang di Indonesia tercatat mengalami skizofrenia.
Namun demikian, Imran menyoroti masih banyak penyandang masalah kesehatan jiwa yang belum memperoleh layanan memadai. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan akses layanan, kurangnya tenaga profesional, serta kuatnya stigma di masyarakat.
“Belum lagi dampak bencana yang terjadi di sejumlah daerah. Kondisi ini dapat memicu masalah kesehatan jiwa seperti depresi dan kecemasan,” ungkapnya.
Kemenkes mencatat, meningkatnya penggunaan layanan konsultasi kesehatan mental berbasis web menunjukkan adanya kebutuhan masyarakat terhadap alternatif layanan yang lebih mudah dijangkau dibandingkan konsultasi tatap muka. Fenomena ini menjadi landasan penting bagi Kemenkes untuk terus mendorong inovasi layanan kesehatan mental digital.
Sebagai bagian dari transformasi sistem kesehatan nasional, Kemenkes berkomitmen memperluas layanan kesehatan mental melalui fasilitas kesehatan primer dan berbasis komunitas. Berbagai program terus diperkuat untuk meningkatkan ketahanan mental masyarakat serta menciptakan lingkungan yang lebih suportif dan inklusif bagi penyintas gangguan kesehatan jiwa.
