Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Ph.D. (baju biru rompi) bersama Walikota Bekasi Tri Adhianto (baju putih). Dok: Istimewa.
Jakarta – Upaya penguatan mitigasi bencana banjir di Kota Bekasi terus dilakukan melalui pengembangan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) yang dikembangkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Sistem ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan dalam memantau kondisi hidrologi secara real time serta memberikan peringatan dini kepada masyarakat di wilayah rawan banjir.
Salah satu kegiatan pengecekan sistem tersebut dilakukan di Bendung Prisdo, Bekasi Timur, Kota Bekasi pada Jumat (6/3). Lokasi ini menjadi salah satu titik penting dalam pemantauan debit air yang dapat memengaruhi kondisi banjir di wilayah Bekasi.
Dalam implementasinya, pemasangan sensor dilakukan di sejumlah titik strategis mulai dari wilayah hulu hingga hilir aliran sungai yang berpengaruh terhadap potensi banjir di Kota Bekasi.
Beberapa lokasi tersebut antara lain kawasan hulu Sungai Cileungsi di Cibongas, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, segmen tengah Sungai Cileungsi di Cileungsi, titik pertemuan Sungai Cileungsi dan Cikeas (P2C), Bendung Prisdo di Bekasi Timur, hingga Sungai Cikeas di wilayah Gunung Putri, Kabupaten Bogor yang berada di hilir Sungai Bekasi.
Titik-titik tersebut dipilih karena memiliki peran penting dalam memantau perubahan debit air yang dapat memicu banjir di kawasan permukiman Kota Bekasi.
Selain sensor pemantauan, sistem EWS ini juga dilengkapi dengan perangkat sirine peringatan yang dipasang di sejumlah kawasan permukiman rawan banjir seperti Bekasi Jaya di Bekasi Timur, Jaka Kencana di Bekasi Selatan, Teluk Pucung di Bekasi Utara, serta Mitra Lestari di Jatiasih.
Wilayah-wilayah tersebut memiliki riwayat kejadian banjir yang cukup tinggi serta berada dekat dengan aliran sungai utama, sehingga membutuhkan sistem penyebaran informasi peringatan dini yang cepat dan efektif.
Sistem ini mengintegrasikan berbagai perangkat teknologi seperti sensor tinggi muka air Automatic Water Level Recorder (AWLR), sensor curah hujan, kamera pemantau, serta dashboard visualisasi data yang dapat menampilkan kondisi sungai secara langsung.
Data yang diperoleh dari berbagai sensor tersebut akan diproses secara real time dan ditampilkan melalui dashboard sehingga petugas dapat memantau dinamika debit air dan status potensi banjir secara cepat dan akurat.
Dengan sistem yang bekerja secara otomatis tanpa operator, masyarakat diharapkan dapat menerima peringatan lebih cepat jika terjadi peningkatan potensi banjir, sehingga langkah antisipasi seperti evakuasi dapat dilakukan lebih awal.
