Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Dr. Abdul Muhari, S.Si., M.T.. Dok: HF.
Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan penanganan banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat memasuki fase transisi pemulihan secara bertahap dan terkendali, seiring menurunnya jumlah pengungsi dan terbukanya kembali akses wilayah terdampak.
Berdasarkan data terkini BNPB per Selasa, 6 Januari 2026, jumlah pengungsi tercatat 242.174 jiwa, turun signifikan dibandingkan puncak pengungsian pada pertengahan Desember 2025. Penurunan ini disebut tidak lepas dari koordinasi terpadu BNPB bersama kementerian/lembaga, TNI-Polri, serta pemerintah daerah.
“BNPB terus mengawal pergeseran dari fase tanggap darurat ke transisi darurat agar pemulihan berjalan aman dan terukur,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari.
BNPB mencatat pengungsi terbanyak masih berada di Provinsi Aceh dengan 217.780 jiwa, dengan konsentrasi terbesar di Aceh Tamiang (74.735 jiwa), Aceh Utara (67.876 jiwa), dan Gayo Lues (19.906 jiwa). Meski demikian, BNPB menegaskan tren pengungsian terus menurun seiring optimalisasi penanganan di lapangan.
Dari sisi dampak, BNPB melaporkan total korban meninggal dunia mencapai 1.178 orang, dengan angka tertinggi di Aceh sebanyak 543 jiwa. Sementara itu, korban hilang yang masih dalam proses pencarian tercatat paling banyak di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, yakni 74 orang, tanpa penambahan kasus baru.
BNPB juga memastikan status kebencanaan di daerah terdampak terus dievaluasi. Seluruh kabupaten/kota di Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah beralih ke fase transisi darurat, sementara Provinsi Aceh masih menetapkan status tanggap darurat hingga 8 Januari 2026, dengan sembilan kabupaten/kota dalam masa perpanjangan.
“Operasi pencarian dan pertolongan tetap dilanjutkan di wilayah yang masih membutuhkan, sembari BNPB mempercepat langkah pemulihan awal,” kata Abdul Muhari.
BNPB mengingatkan potensi bencana susulan masih perlu diantisipasi, khususnya di wilayah perbukitan dan daerah aliran sungai, mengingat intensitas hujan masih tinggi pada awal Januari. Karena itu, BNPB terus memperkuat mitigasi, kesiapsiagaan, dan pengendalian risiko bencana di seluruh wilayah terdampak.
