Gubernur NTT, Melki Laka Lena. Dok Istimewa.
Jakarta – Sore menjelang malam di Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur terasa berbeda pada Rabu (12/11). Lampu-lampu ruang rapat di lantai dua masih menyala terang, menandai berakhirnya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) Bank Pembangunan Daerah (BPD) NTT yang berlangsung sejak siang.
Setelah berjam-jam berdiskusi, para pemegang saham, mulai dari Gubernur NTT Melki Laka Lena, Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo, hingga sejumlah bupati, akhirnya mencapai titik keputusan penting arah baru Bank NTT resmi ditetapkan.
Dalam suasana serius namun optimistis, Gubernur Melki Laka Lena mengumumkan hasil RUPS LB tersebut. Ia menegaskan, keputusan pengangkatan jajaran direksi baru telah melalui proses yang matang dan mendapat restu Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“SK Gubernur sudah keluar. Direksi yang baru akan dilantik besok, Kamis (13/11),” ujar Melki di hadapan para jurnalis yang hadir malam itu.
Melki menyebutkan susunan direksi yang telah ditetapkan. Carlie Paulus dipercaya memimpin sebagai Direktur Utama, didampingi oleh Rahmat Saleh sebagai Direktur Umum dan SDM, Aloysius Geong sebagai Direktur Kredit, Heru Helbianto di posisi Direktur Dana dan Treasury, serta Christofel Adoe yang tetap menjabat Direktur Kepatuhan hingga ada persetujuan baru dari OJK.
Adapun posisi Komisaris Utama diisi oleh Donny Heatubun, sementara dua kursi direksi Direktur Dana dan Direktur IT masih menunggu persetujuan regulator.
Baca juga: Banyuwangi Hadirkan Dokter Spesialis di Puskesmas, Perkuat Layanan Kesehatan Masyarakat
Menurut Melki, pembenahan struktur manajemen ini bukan sekadar pergantian nama atau jabatan. Ia ingin Bank NTT benar-benar bertransformasi menjadi lembaga keuangan daerah yang sehat, transparan, dan kuat menopang pembangunan ekonomi provinsi.
“Bank NTT ini bukan hanya urusan perbankan, tapi juga urusan masa depan ekonomi rakyat. Kita ingin tata kelola yang lebih baik, pengawasan yang lebih kuat, dan keterlibatan pemegang saham yang lebih aktif,” tegasnya.
Baginya, keberadaan Bank NTT harus menjadi tulang punggung bagi kemajuan daerah, mendukung program pemerintah kabupaten, kota, maupun provinsi, serta menjadi bagian dari program nasional di wilayah timur Indonesia.
Sementara itu, Direktur Utama Bank NTT yang baru, Carlie Paulus, membawa visi segar. Dalam konferensi pers, Carlie tampak bersemangat namun tetap rendah hati. Ia menyadari tanggung jawab besar yang kini dipikulnya.
“Ada banyak harapan dari masyarakat dan para pemegang saham. Kami harus bergerak cepat, tapi juga hati-hati,” ujarnya.
Carlie menjelaskan arah fokus Bank NTT ke depan: memperkuat kredit produktif agar lebih seimbang dengan kredit konsumtif yang selama ini mendominasi.
“Kami ingin membantu sektor riil pertanian, UMKM, industri lokal agar ekonomi di daerah benar-benar bergerak,” katanya.
Ia juga menyoroti potensi besar yang dimiliki masyarakat NTT, terutama para pelaku usaha perempuan.
“NTT ini provinsi pariwisata. Banyak pelaku industrinya adalah perempuan di kuliner, kerajinan, dan fashion. Bank NTT ingin hadir membiayai dan memberdayakan mereka. Ini program pertama di Indonesia yang berfokus pada pengusaha perempuan,” ungkapnya bangga.
Dengan semangat perubahan itu, Carlie menargetkan laba Bank NTT bisa menembus Rp260 miliar pada tahun depan, dengan tingkat Non Performing Loan (NPL) ditekan hingga 3 persen, dari posisi sebelumnya 3,6 persen.
Langkah baru ini menjadi sinyal kuat bahwa Bank NTT tengah berbenah bukan hanya di atas kertas, tetapi juga dalam semangat para pemimpin dan pegawainya.
Sebagaimana disampaikan Gubernur Melki,
“Kita ingin Bank NTT menjadi kebanggaan masyarakat Nusa Tenggara Timur bank yang tumbuh, melayani dengan hati, dan benar-benar menjadi milik rakyatnya.”
