Kepala Kanwil BPN Provinsi Banten Harison Mocodompis saat berbincang santai dalam program Ngaco di INDOPOSCO Channel. Dok: tangkapan layar YouTube INDOPOSCO Channel.
Jakarta – Mengelola sebuah instansi pemerintah dan manajemen organisasi birokrasi ternyata memiliki benang merah yang erat dengan strategi sepak bola di lapangan hijau.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Banten, Harison Mocodompis, dalam tayangan program bincang santai Ngaco (Ngobrol Indo Posco) yang dipandu oleh host Juni Armanto bersama co-host Riza Waluddin di kanal YouTube INDOPOSCO Channel pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Tampil santai dan jauh dari kesan kaku, Harison yang merupakan penggemar berat (fans) klub raksasa Inggris, Manchester United (MU), membeberkan bagaimana prinsip-prinsip taktis sepak bola ia terapkan dalam memimpin jajarannya di BPN Banten.
Ibarat Strategi Lapangan dan Analogi Sir Alex
Dalam wawancara tersebut, Harison menjelaskan bahwa dalam mengelola Sumber Daya Manusia (SDM) dan struktur organisasi, seorang pemimpin harus jeli melihat potensi dan pembagian peran pegawainya, mirip seperti seorang manajer menentukan komposisi tim.
“Di dalam sebuah pekerjaan, apalagi meng-organize orang ya, memegang organisasi, ada SDM, segala macam, lu harus punya strategi. Siapa striker-nya, siapa gelandangnya, siapa bek-nya, siapa kipernya,” ujar Harison.
Ia juga menegaskan pentingnya pemahaman tugas pokok dan fungsi (tupoksi) pada setiap posisi agar roda organisasi berjalan optimal.
“Di pekerjaan tuh, saya selalu bicara kepada anak-anak di kantor. Saya gak tahu kamu tuh hari ini posisinya apa. Tapi ibarat bola, kamu tuh ada yang kiper, bek, gelandang, striker. Saya pelatihnya, saya Sir Alex gitu, mengorkestrasi sebuah pertarungan,” tambahnya.
Harison mengilustrasikan, ketika organisasi menghadapi situasi bertahan atau menyerang, pimpinan harus berani melakukan penyesuaian komposisi personel seperti halnya mengganti penyerang Ruud van Nistelrooy dengan bek tangguh Jaap Stam saat butuh memperkuat pertahanan, atau memasang pemain-pemain tajam seperti Ryan Giggs, David Beckham, dan Paul Scholes saat harus tampil menekan.
Terapkan Etos Kerja Fergie Time
Selain aspek penempatan posisi (positioning), Harison menekankan filosofi pantang menyerah hingga detik terakhir yang sangat melekat pada mentalitas Manchester United, yakni istilah Fergie Time momen ketika Sir Alex Ferguson sering membawa timnya meraih kemenangan lewat gol di menit-menit akhir pertandingan.
“Dan ingat, filosofi MU ini saya tanamkan di pekerjaan. Jangan pernah berpikir pekerjaan itu sudah selesai atau sudah kita memangkan sampai pertandingan benar-benar selesai,” tegas Harison.
Prinsip tersebut ia jadikan standar etos kerja bagi seluruh jajarannya di BPN Banten dalam menyelesaikan tugas-tugas pelayanan publik.
“Saya kasih tahu anak-anak di kantor, pastikan sampai dengan detik terakhir. You jangan pernah lapor ‘Sudah, sudah Pak, sudah Pak.’ Gak ada sudah-sudah itu. Sudah-sudah itu ya ketika sudah beneran,” terangnya.
Menurut Harison, dalam dunia kerja maupun kehidupan, segala dinamika bisa terjadi sebelum hasil akhir ditentukan.
“Memastikan etos kerja itu sampai dengan 90 menit berakhir. Dan dalam 90 menit, apa pun bisa terjadi. You bisa unggul sampai menit ke-89, di menit ke-91 bisa saja kamu kalah. Atau sebaliknya, lu bisa kalah di menit-menit awal, menang di menit-menit akhir. Begitulah kehidupan, pekerjaan juga begitu sebenarnya,” pungkas Harison.
