Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto (dua dari kanan) menyampaikan laporan perkembangan penanganan gempa Flores kepada Presiden RI Prabowo Subianto di Posko Penanganan Bencana, Kabupaten Nagekeo, NTT, Rabu (26/8/2026). Dok: Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden.
Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menyampaikan laporan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai perkembangan penanganan gempa bumi Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang memasuki hari ke-12.
Laporan disampaikan Suharyanto dari Posko Penanganan Bencana Gempa Bumi NTT di Batalyon Teritorial Pembangunan Kabupaten Nagekeo, Rabu (26/8/2026).
Dalam paparannya, Suharyanto menyebut penanganan bencana terus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI-Polri, serta berbagai kementerian dan lembaga.
Gempa yang terjadi sejak 15 Agustus 2026 tersebut berdampak pada tujuh kabupaten di Pulau Flores, yakni Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, Ende, dan Sikka.
Sementara Flores Timur tidak terdampak langsung oleh gempa, tetapi wilayah tersebut menghadapi ancaman erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.
7.259 Kali Gempa Tercatat
Kepada Presiden Prabowo, Suharyanto melaporkan aktivitas kegempaan masih terjadi. Berdasarkan data hingga 25 Agustus, tercatat sebanyak 7.259 kali gempa sejak 15 Agustus.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 143 gempa susulan dirasakan oleh masyarakat. Suharyanto mengatakan gempa susulan menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan tingginya jumlah warga yang mengungsi. Selain dampak langsung bencana, masyarakat juga mengalami kekhawatiran akibat terus merasakan getaran.
Kondisi tersebut diperparah dengan beredarnya informasi di media sosial yang menyebut akan terjadi gempa lebih besar hingga tsunami. BNPB bersama pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait terus memberikan penjelasan kepada masyarakat untuk meluruskan informasi dan mencegah kepanikan.
105 Orang Meninggal, 179 Ribu Mengungsi
Data sementara yang disampaikan kepada Presiden menunjukkan, gempa Flores menyebabkan 105 orang meninggal dunia dan 1.678 orang mengalami luka-luka.
Sementara jumlah warga yang mengungsi mencapai 179.037 orang. Adapun rumah yang mengalami kerusakan tercatat sebanyak 81.436 unit. Sejumlah fasilitas umum seperti sekolah, masjid, dan kantor pemerintahan juga terdampak.
Suharyanto menjelaskan, korban meninggal dunia terdiri atas korban yang terdampak langsung gempa maupun korban yang meninggal dalam rangkaian penanganan pascabencana.
Sebanyak 48 orang merupakan korban langsung gempa. Sementara 57 korban lainnya berasal dari hasil operasi SAR dan penanganan di fasilitas kesehatan, termasuk warga yang mengalami trauma, kelompok lanjut usia, serta anak-anak.
Manggarai dan Manggarai Timur menjadi dua kabupaten dengan dampak paling parah. Nagekeo berada di urutan berikutnya.
BNPB Perkuat Komando Tanggap Darurat
Sejak hari pertama bencana, BNPB bersama pemerintah pusat dan daerah langsung mengaktifkan mekanisme komando penanganan darurat.
Satgas kabupaten/kota dipimpin oleh masing-masing bupati, sedangkan Satgas Provinsi dipimpin Gubernur NTT. Pemerintah pusat membentuk satgas pendampingan untuk memperkuat penanganan di lapangan.
BNPB juga membuka posko pendampingan di Labuan Bajo dan Maumere untuk mempercepat koordinasi dan distribusi bantuan.
Wilayah terdampak dibagi dalam dua wilayah pelayanan. Posko Labuan Bajo melayani wilayah Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, dan Ngada. Sementara Posko Maumere melayani Sikka, Ende, dan Ngada.
Pembagian tersebut dilakukan agar distribusi bantuan dapat menyesuaikan kondisi geografis dan kebutuhan masing-masing wilayah.
“Memang sesuai undang-undang, kami yang diperintahkan untuk mengorkestrasi itu, memegang komando tanggap darurat,” ujar Suharyanto.
Ribuan Ton Logistik Disalurkan
Dalam laporan kepada Presiden, Suharyanto memastikan kebutuhan logistik dasar masyarakat selama masa tanggap darurat masih aman.
Dari Posko Nasional di Halim Perdanakusuma, sebanyak 2.032 ton bantuan logistik telah masuk. Dari jumlah tersebut, 1.539 ton telah didistribusikan ke wilayah terdampak.
Sebanyak 1.035 ton didistribusikan melalui Labuan Bajo dan 504 ton melalui Maumere.
Distribusi bantuan dilakukan menggunakan berbagai moda transportasi. TNI Angkatan Udara telah mengoperasikan 34 sortie dengan membawa sekitar 445 ton bantuan, sedangkan penerbangan komersial mencapai 61 sortie dengan muatan sekitar 915 ton.
Selain jalur udara, sebanyak 179 ton bantuan telah dikirim melalui jalur laut. Bantuan juga dikirim langsung menuju wilayah terdampak. Suharyanto melaporkan sebanyak 2.069 ton bantuan telah masuk ke Labuan Bajo, sementara 448 ton masuk ke Maumere dan 332,9 ton di antaranya telah didistribusikan.
Menurut Suharyanto, tingginya dukungan bantuan dari kementerian/lembaga, TNI-Polri, pemerintah daerah, sektor swasta, serta berbagai pihak membuat kebutuhan logistik dasar masyarakat relatif tidak mengalami kendala.
Layanan Kesehatan Terus Dipulihkan
Di sektor kesehatan, sebagian besar fasilitas pelayanan kesehatan telah kembali beroperasi. Saat ini masih terdapat 19 puskesmas yang belum beroperasi penuh.
Suharyanto menjelaskan, kondisi tersebut tidak seluruhnya disebabkan kerusakan bangunan. Kekhawatiran terhadap gempa susulan juga membuat sebagian masyarakat dan tenaga kesehatan enggan beraktivitas di dalam bangunan.
Untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan, BNPB bersama unsur terkait telah menyiapkan 122 tenda di depan puskesmas.
Dukungan kesehatan juga diperkuat dengan pengerahan dua kapal rumah sakit milik TNI Angkatan Laut, yakni KRI dr. Soeharso dan Rumah Sakit Kapal Ksatria Erlangga.
Kedua kapal tersebut telah memberikan pelayanan kesehatan di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.
Selain itu, dua rumah sakit lapangan didirikan di Nagekeo dan Ruteng, Kabupaten Manggarai, karena terdapat rumah sakit yang terdampak cukup parah sehingga tidak dapat memberikan pelayanan secara optimal.
Listrik dan Telekomunikasi Berangsur Pulih
Pemulihan layanan dasar juga terus dilakukan. Suharyanto melaporkan jaringan listrik secara umum telah pulih 100 persen. Namun, di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, pemulihan jaringan masih berlangsung dengan capaian 84,59 persen.
Sementara jaringan telekomunikasi secara umum telah kembali pulih. Pemerintah juga terus menangani sejumlah titik yang membutuhkan perbaikan jaringan air bersih.
Untuk ketersediaan BBM, situasi telah berangsur normal. Tidak lagi ditemukan antrean maupun kesulitan BBM seperti pada masa awal tanggap darurat.
23 Pesawat Disiagakan
Untuk mendukung operasi penanganan bencana, sebanyak 23 pesawat, baik pesawat sayap tetap maupun helikopter, telah disiapkan.
Armada tersebut berasal dari BNPB, TNI Angkatan Udara, TNI Angkatan Laut, Kementerian Perhubungan, dan Basarnas.
Namun, kebutuhan distribusi bantuan melalui udara kini mulai berkurang karena akses jalan darat menuju wilayah terdampak telah kembali terbuka.
“NTT ini tidak seperti waktu Aceh. Tidak ada lagi daerah-daerah yang perlu didistribusikan menggunakan udara. Semuanya, jalan-jalan sudah bisa ditempuh lewat jalur darat,” kata Suharyanto.
Laporan Kepala BNPB tersebut menjadi bagian dari evaluasi langsung pemerintah terhadap penanganan gempa Flores. Memasuki hari ke-12, fokus penanganan tidak hanya diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga pemulihan layanan publik dan memastikan masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas secara bertahap.
