Stasiun Sukabumi. Dok: Humas KAI.
Jakarta – Setiap pagi, derap langkah warga menyatu dengan suara roda kereta di Stasiun Sukabumi. Ada pekerja yang mengejar waktu, pelajar dengan tas punggung, hingga pedagang kecil yang berharap dagangannya laku di kota seberang. Di balik rutinitas itu, konektivitas kereta api pelan-pelan mengubah wajah mobilitas dan harapan masyarakat Sukabumi dan sekitarnya.
Kereta api kini bukan sekadar moda transportasi, melainkan jembatan kehidupan yang menghubungkan Sukabumi dengan Bogor, Cianjur, hingga Bandung Barat.
Sinergi antara pemerintah dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) menjadi fondasi penting dari keterhubungan ini pemerintah memastikan jalur dan prasarana siap, sementara KAI menghadirkan layanan yang aman dan nyaman bagi masyarakat.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyebut kolaborasi tersebut sebagai kunci agar kereta api benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga.
“Ketika prasarana dan layanan berjalan selaras, masyarakat mendapatkan akses yang lebih luas untuk bekerja, belajar, dan berusaha,” ujarnya.
Peran Stasiun Sukabumi pun kian strategis. Stasiun ini menjadi simpul pertemuan berbagai kepentingan ekonomi dan sosial. Data Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sukabumi mencapai 5,15 persen pada 2024, namun tantangan ketenagakerjaan masih ada. Di sinilah kereta api hadir sebagai penghubung peluan-memperpendek jarak antara rumah, tempat kerja, dan layanan publik.
Layanan KA Pangrango yang menghubungkan Sukabumi–Bogor serta KA Siliwangi relasi Sukabumi-Cipatat menjadi tulang punggung mobilitas warga. Dari Bogor, integrasi Stasiun Bogor dan Bogor Paledang melalui skybridge memudahkan penumpang melanjutkan perjalanan tanpa hambatan. Bagi banyak orang, perjalanan antarkota kini terasa lebih sederhana dan terjangkau.
Kepercayaan masyarakat terhadap kereta api terlihat dari lonjakan jumlah penumpang. Dalam lima tahun terakhir, jumlah pengguna di Stasiun Sukabumi terus meningkat hingga menembus lebih dari 768 ribu penumpang pada 2025. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cerminan kebutuhan dan harapan warga terhadap transportasi yang bisa diandalkan.
Pertumbuhan serupa juga terjadi di Stasiun Bogor, yang menjadi pintu utama menuju Sukabumi. Jutaan penumpang Commuter Line hilir mudik setiap tahun, menandakan betapa pentingnya keterhubungan antardaerah dalam menopang aktivitas harian masyarakat.
Anne menegaskan, rel kereta membawa dampak yang jauh melampaui perjalanan fisik. Mobilitas tenaga kerja meningkat, usaha kecil mendapat pasar baru, pelajar lebih mudah mengakses pendidikan, dan pariwisata daerah ikut bergerak.
“Wilayah yang terhubung bukan hanya lebih dekat secara jarak, tapi juga lebih kuat secara sosial dan ekonomi,” katanya.
Di sepanjang rel Sukabum-Bogor–-Bandung Barat, cerita-cerita kecil tentang perjuangan dan harapan terus berjalan seiring laju kereta. Sinergi pemerintah dan KAI memastikan bahwa perjalanan itu tidak hanya sampai tujuan, tetapi juga membawa masa depan yang lebih baik bagi masyarakat.
