Tangkapan Layar Instagram Geo Dipa Energi. Dok: Istimewa.
Jakarta – Isu bahwa pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) merusak hutan kembali diluruskan. Melalui kampanye edukatif di media sosial, PT Geo Dipa Energi menegaskan bahwa pemanfaatan panas bumi justru merupakan salah satu sumber energi terbarukan dengan jejak lahan paling minimal.
Dalam unggahan terbarunya, Geo Dipa Energi menjelaskan bahwa proses eksplorasi dan pengeboran panas bumi dilakukan secara terukur dan presisi, bukan dengan membuka kawasan hutan secara luas. Setelah sumur beroperasi, sebagian besar area tetap hijau dan tertutup vegetasi alami.
“Banyak yang mengira panas bumi merusak hutan. Padahal kenyataannya, panas bumi dikenal sebagai energi bersih dengan penggunaan lahan yang sangat terbatas,” tulis Geo Dipa Energi dalam keterangannya.
Geo Dipa menyebut, praktik pengelolaan lingkungan yang ketat menjadi kunci utama keberlanjutan proyek panas bumi. Dengan penerapan standar operasional prosedur (SOP) yang benar, pembangkit panas bumi mampu menghasilkan listrik bersih tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem sekitar.
Contoh nyata dapat dilihat di wilayah Dieng dan Patuha. Di dua kawasan tersebut, aktivitas pembangkit panas bumi berjalan berdampingan dengan hutan dan ekosistem lokal. Area sekitar fasilitas tetap hijau, sekaligus mendukung kehidupan flora dan fauna setempat.
Melalui kampanye ini, Geo Dipa Energi mengajak masyarakat untuk melihat panas bumi secara lebih objektif, berbasis data dan praktik lapangan. Perusahaan menegaskan bahwa transisi energi bersih tidak harus bertentangan dengan pelestarian alam.
“Dengan tata kelola lingkungan yang tepat, panas bumi bisa menjadi solusi listrik bersih sekaligus penjaga hutan,” tegas Geo Dipa Energi.
Klarifikasi ini sekaligus memperkuat peran panas bumi sebagai pilar penting dalam transisi energi nasional menuju bauran energi rendah karbon yang berkelanjutan.
