Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri. Dok: Istimewa.
Jakarta – Di tengah dunia yang terus bergerak dan cuaca yang kian sulit diprediksi, nyala energi menjadi penopang kehidupan. Di balik nyala itu, ada kepemimpinan yang bekerja dalam senyap.
Selama lebih dari setahun menjabat sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri mengemban amanah menjaga denyut energi nasional tetap hidup.
Sejak resmi dilantik pada 4 November 2024, Simon memimpin Pertamina di persimpangan zaman: saat ketahanan energi harus berjalan beriringan dengan tuntutan perubahan dan transisi.
Dari hulu hingga hilir, dari kilang hingga SPBU, roda energi nasional terus bergerak, bahkan ketika hujan deras, banjir, dan dinamika global menguji ketangguhan sistem.
Di bawah kepemimpinannya, pasokan BBM, LPG, dan Avtur tetap terjaga, memastikan aktivitas masyarakat ibadah, perjalanan, hingga layanan publik tetap berlangsung tanpa henti. Energi tak lagi sekadar komoditas, melainkan jaminan keberlangsungan hidup dan stabilitas negeri kepulauan yang luas ini.
Namun menjaga nyala bukan hanya soal pasokan. Simon menaruh perhatian besar pada keteguhan fondasi perusahaan. Tata kelola diperkuat, integritas ditegakkan, dan transparansi menjadi kompas. Ia memahami bahwa cahaya hanya akan bertahan lama jika sumbernya bersih dan dapat dipercaya.
Di saat yang sama, arah masa depan mulai digoreskan. Melalui pengembangan energi baru dan terbarukan, bioenergi, dan bisnis rendah karbon, Pertamina perlahan menapaki jalan transisi tidak tergesa, namun berkesinambungan. Sebuah upaya agar perubahan tak memadamkan kebutuhan hari ini, sekaligus menyiapkan hari esok.
Sinergi antar subholding pun diperkuat. Dari eksplorasi hingga distribusi, Pertamina dipimpin sebagai satu kesatuan, bekerja bersama menjaga efisiensi dan ketahanan bisnis. Di tengah tantangan global dan tuntutan nasional, perusahaan tetap berdiri sebagai penjaga stabilitas energi Indonesia.
Setahun berlalu, nyala itu tetap ada. Tak selalu tanpa tantangan, namun terus dijaga. Di bawah kepemimpinan Simon Aloysius Mantiri, Pertamina melangkah dengan satu keyakinan: bahwa energi bukan sekadar daya, melainkan harapan yang harus terus hidup untuk negeri.
